Mukhtar Hadi atau yang kerap disapa Pak Borju, pendiri Sekolah Alam Raya Muara Jambi.(Foto: Borju)

Jambi, Idola 92.6 FM-Pada tahun 2010, bersama komunitas yang kelak bernama Perkumpulan Rumah Menapo, sosok satu ini mendirikan Sekolah Alam Raya Muara Jambi. Melalui sekolah non-formal ini, ia bersama pegiat kebudayaan lainnya memberikan edukasi tentang kebudayaan dan lingkungan kepada anak-anak.

Sosok itu adalah Mukhtar Hadi atau yang kerap disapa Pak Borju, pendiri Sekolah Alam Raya Muara Jambi.

Pak Borju mengatakan dirinya terinspirasi dengan sejarah KCBN (Kawasan Cagar Budaya Nasional) Muarajambi yang dulunya menjadi pusat pendidikan terbesar di Asia Tenggara. Ia ingin menerapkannya melalui sekolah dengan moto “Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku.”

Konsep Sekolah Alam Raya adalah tematik. “Konsepnya tematik, saya pilih beberapa tema, misalnya…Desaku bersih, sungai Batanghari bukan tong sampah raksasa,”tutur Pak Borju kepada radio Idola Semarang, pagi (02/03) tadi.

Dengan tema seperti itu, ia mengajak anak-anak yang tergabung dalam sekolah alam, untuk berinteraksi dengan alam. Membawa trashbag untuk memunguti sampah. Agar lingkungan bersih. Dalam sekali berinteraksi, ada sekitar 40 siswa yang ikut bergabung.

Dik Doank, sosok yang menginspirasi Mukhtar Hadi dalam mendirikan Sekolah Alam Raya Muara Jambi. Dik Doank mendirikan Kandank Jurank Doank (KJD), sekolah alam dan tempat wisata edukasi di Ciputat, Tangerang Selatan.(Foto: Borju)

Termasuk mengajak siswa melakukan penelusuran situs sejarah. Dengan tema ini anak-anak menelusuri KCBN Muarajambi. Tidak hanya mengenal benda cagar budayanya saja tetapi juga mengetahui flora yang tumbuh di sekitar lingkungan kawasan itu.

Lalu apa tantangan dan harapannya?

Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Mukhtar Hadi atau yang kerap disapa Pak Borju, pendiri Sekolah Alam Raya Muara Jambi. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya: