ilustrasi/cnbci

Semarang, Idola 92.6 FM-Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah serangan militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel ke Iran Sabtu (28/02) lalu. Serangan ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Peristiwa ini dinilai bukan sekadar konflik regional melainkan berpotensi mengubah arsitektur keamanan Timur Tengah. Bahkan, memengaruhi stabilitas global. Dampaknya mulai terasa: pasar keuangan bergejolak, harga energi melonjak, dan kekhawatiran muncul terhadap inflasi global, rantai pasok, hingga prospek pertumbuhan ekonomi dunia dalam jangka menengah dan panjang.

Sejumlah ekonom menilai, risiko perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel bisa lebih kompleks disbanding sebelumnya. Apalagi, jika perang berlangsung lama. Kenaikan harga minyak yang bertahan lama dapat menghambat tren disinflasi global, menunda pelonggaran kebijakan moneter di Negara maju serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Lalu, di tengah eskalasi yang masih memanas di Timur Tengah ini, apa dampak paling dekat yang perlu kita antisipasi? Sejauh mana perang Israel–Amerika Serikat dan Iran ini akan berimbas pada Indonesia—baik dari sisi geopolitik, keamanan, maupun ekonomi? Dan dalam situasi global yang makin bergejolak ini/ di mana posisi Indonesia? Sikap apa yang semestinya diambil pemerintah?

Untuk mengurai persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan dua narasumber: Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro dan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman. (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: