Kepala BBPOM di Semarang Rustyawati menunjukkan salah satu sampel yang telah diuji dan dinyatakan negatif mengandung bahan berbahaya.

Semarang, Idola 92,6 FM-BBPOM di Semarang bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang melakukan pengecekan makanan takjil di halaman Muladi Dome Undip, Selasa (3/3).

Hasilnya, mayoritas sampel pangan siap saji dinyatakan aman dan tidak mengandung bahan berbahaya.

Kepala BBPOM di Semarang Rustyawati mengatakan hasil pemeriksaan tahun ini, menunjukkan tren yang sangat positif.

“Alhamdulillah negatif ya, jadi tidak ada yang mengandung bahan berbahaya. Jadi itu harus kita syukuri, nol. Semuanya aman,” kata Rustyawati.

Rustyawati menjelaskan, berdasarkan data pengawasan BBPOM, temuan pangan mengandung bahan berbahaya terus menurun dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2023 tercatat lima persen sampel mengandung bahan berbahaya, kemudian turun menjadi empat persen pada 2024, dan di 2025 hingga awal Ramadan 2026 ini tercatat nol persen.

“Ini ada peningkatan yang baik dari tahun ke tahun. Artinya kesadaran pedagang semakin meningkat,” jelasnya.

Menurut Rustyawati, pengawasan tidak hanya dilakukan pada pangan siap saji, tetapi juga menyasar toko dan swalayan yang menjual produk pangan selama Ramadan.

BBPOM memastikan, pengawasan akan terus berlanjut sepanjang bulan puasa.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Hakam menambahkan, pengawasan dilakukan secara kolaboratif untuk memastikan keamanan pangan di tengah meningkatnya aktivitas penjualan selama Ramadan.

“Kami bareng-bareng untuk memeriksa dan mengawasi pangan sehat, terutama pada bulan Ramadan. Karena memang di bulan ini banyak sekali masyarakat yang tiba-tiba berjualan produk makanan, dan itu perlu kita awasi agar tidak terjadi intoksikasi atau keracunan,” ucapnya.

Menurut Hakam, dari 35 sampel yang diuji BBPOM, sebanyak 24 sampel dinyatakan aman.

Namun, ditemukan satu sampel kerupuk gendar yang mengandung boraks melebihi ambang batas.

“Penggunaan boraks umumnya dilakukan untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal dan renyah agar tidak mudah melempem. Padahal, konsumsi boraks secara terus-menerus dapat berisiko terhadap kesehatan,” imbuhnya. (Bud)