ilustrasi/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM-Dunia saat ini kembali dihadapkan pada ketidakpastian global. Eskalasi di Timur Tengah pasca serangan militer Israel dan Amerika Serikat ke Iran bukan hanya persoalan regional, tetapi berpotensi menjadi guncangan geopolitik internasional.

Kawasan Timur Tengah selama ini dikenal sebagai jantung energi dunia. Ketika konflik meningkat bukan hanya stabilitas kawasan yang terganggu, tetapi juga rantai pasok energi global, harga minyak, hingga stabilitas ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam konteks inilah muncul pertanyaan besar: Bagaimana Indonesia harus bersikap?

Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas-aktif, Indonesia tidak berpihak pada blok manapun, namun aktif berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia. Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto mendorong agenda kemandirian dan kedaulatan energi sebagai bagian dari strategi jangka panjang menghadapi ketidakpastian global.

Lalu, pertanyaannya, apakah eskalasi konflik ini justru mempertegas urgensi ketahanan energi nasional? Apakah Indonesia cukup bersikap normatif, atau perlu memainkan peran diplomatik yang lebih strategis? Dan sejauh mana peluang Indonesia menjadi juru damai di tengah ketegangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran?

Untuk membahas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro dan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, Teuku Rezasyah. (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: