
Batang, Idola 92.6 FM-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT 21 dari UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan program pendidikan informal di SD 02 Sidomulyo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Program ditekankan pada pengembangan materi non-akademis dalam seni, khususnya dalam musik dan tari.
Aktivitas ini dilakukan secara teratur setiap hari Jumat selama masa pengabdian para mahasiswa di Desa Sidomulyo. Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mendukung perkembangan siswa secara lebih holistik.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa berusaha menghadirkan metode pembelajaran alternatif yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan juga kecerdasan emosional serta sosial anak-anak,” kata Koordinator posko 13 KKN MIT 21 dari UIN Walisongo Semarang, Muhammad Dzaki Attalah Hanan, dalam siaran persnya.
Menurut Hanan, pelaksanaan sekolah informal ini berawal dari hasil pengamatan dan komunikasi dengan pihak sekolah yang mengindikasikan adanya ketertarikan yang tinggi dari siswa terhadap seni. Namun, kekurangan waktu dan sarana dalam pendidikan formal membuat perkembangan bakat seni belum dapat dioptimalkan.
Oleh karena itu, mahasiswa posko 13 KKN MIT 21 merancang program yang terstruktur dan berkelanjutan dalam bidang tari dan musik yang disesuaikan dengan karakter siswa sekolah dasar. “Program ini tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga berupaya untuk membentuk sifat disiplin, kolaborasi, dan rasa tanggung jawab,” ujar Hanan, mahasiswa jurusan Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) UIN Walisongo.
Dalam penerapan seni tari, mahasiswa mengajarkan langkah-langkah dasar yang sederhana tetapi berarti, dimulai dengan latihan fleksibilitas, pengenalan kepada ritme, hingga penyusunan koreografi secara kolektif. Anak-anak diajak untuk memahami pentingnya kerja sama dalam setiap gerakan untuk menghasilkan harmoni visual yang menarik.
“Sementara itu, di bidang seni musik, siswa dikenalkan dengan dasar-dasar irama, tempo, dan teknik vokal yang sederhana. Mahasiswa memanfaatkan alat musik sederhana yang ada di sekolah dan mengajak siswa untuk bernyanyi bersama lagu anak-anak serta lagu daerah sebagai cara melatih keselarasan suara dan meningkatkan rasa percaya diri ketika tampil,” ujar Hanan.
Hanan menambahkan, setiap sesi kegiatan dimulai dengan permainan pemecah kebekuan dan aktivitas edukatif agar suasana menjadi lebih santai dan menyenangkan. Pendekatan yang digunakan bersifat interaktif dan partisipatif sehingga siswa merasa nyaman dan tidak tertekan. Mahasiswa juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan hasil latihan di depan teman-teman mereka sebagai bentuk penghargaan serta latihan mental.
“Dengan cara ini, siswa belajar untuk berani tampil, menghargai proses, dan menerima umpan balik secara positif,” tuturnya. Menurut Hanan, pihak sekolah sebagai mitra, memberikan respons yang sangat positif terhadap program ini.
Sebagai langkah lanjutan, mahasiswa KKN MIT 21 juga berusaha mendorong keberlanjutan program dengan memperkuat kegiatan ekstrakurikuler di bidang seni. Harapan dari hasil latihan yang telah diraih siswa adalah dapat ditampilkan dalam acara sekolah maupun kegiatan desa sebagai bentuk penghargaan terhadap bakat mereka. Dengan demikian, potensi seni yang telah dilatih selama program berlangsung dapat terus berkembang dan tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. (her/tim)














