Semarang, Idola 92,6 FM-Laju inflasi di Jawa Tengah pada Februari 2026, tercatat meningkat seiring momentum Ramadan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Noor Nugroho mengatakan inflasi bulanan (mtm) pada Februari 2026 mencapai 0,76 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,68 persen (mtm). Pernyataan itu disampaikan melalui siaran pers, Rabu (4/3).
“Inflasi Jawa Tengah pada Februari 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan dan sejumlah komoditas pangan strategis,” kata Nugroho.
Nugroho menjelaskan, secara tahunan (yoy), inflasi Jateng tercatat sebesar 4,43 persen.
Angka ini berada di atas rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen (yoy).
“Tekanan inflasi terbesar berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,58 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini antara lain daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras,” jelasnya.
Menurut Nugroho, kenaikan harga komoditas tersebut dipicu masuknya periode tanam dan kondisi cuaca ekstrem serta peningkatan permintaan masyarakat selama Ramadan.
Selain itu, kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tren kenaikan harga emas global, yang didorong ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia, sehingga meningkatkan permintaan aset safe haven.
“Tekanan inflasi yang lebih tinggi sedikit tertahan oleh deflasi pada Kelompok Transportasi dengan andil minus 0,02 persen (mtm). Penurunan ini dipengaruhi turunnya harga bensin sebesar minus 0,05 persen (mtm) setelah adanya penyesuaian tarif yang ditetapkan pemerintah pada awal Februari 2026,” imbuhnya.
Lebih lanjut Nugroho menjelaskan, secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jateng mengalami inflasi pada Februari 2026.
Inflasi tertinggi tercatat di Kota Surakarta sebesar 0,90 persen (mtm), dan terendah adalah Kota Semarang sebesar 0,67 persen (mtm). (Bud)















