22 Anak Lolos Sebagai Calon Menteri

Penjurian Sehari jadi Menteri (IST). (photo: jurnas.com)

Jakarta, Idola 92.6 FM – Sebanyak 22 anak muda dari 11 provinsi lolos sebagai calon Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA). Para finalis itu akan berkompetisi memperebutkan dua posisi untuk menjadi Menaker dan Menteri PPPA. Sisanya, 20 anak akan dibagi masing-masing sebagai pejabat di dua kementerian tersebut.

“Tahun ini perayaan Hari Anak Perempuan Internasional pada 11 Oktober ini akan diisi dengan acara ‘Sehari Jadi Menteri,’ yang diadakan di Kemnaker dan KPPPA,” kata Country Director Plan International Indonesia, Mingming Remata Evora, dalam siaran persnya kepada Radio Idola 92.6 FM, Rabu (5/10).

Dia menjelaskan, ke-15 anak terpilih melalui seleksi bertingkat, yang finalnya diputuskan bersama dengan jajaran di kedua kementerian. Sedangkan tujuh anak lainnya menjadi finalis melalui jalur khusus yang berasal dari kelompok anak berkebutuhan khusus dan marjinal.

Dua puluh dua anak itu berasal dari Provinsi Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, NTT dan Papua. Mereka akan dikarantina selama empat hari di Jakarta, untuk digodok dan dipersiapkan tampil sebagai menteri dan jajarannya.

“Selama di karantina, mereka akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tambahan, seperti pengenalan organisasi di kementerian, isu-isu di lingkungan kementerian yang terkait dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDGs), serta keterampilan lain seperti public speaking,” jelas Mingming.

Finalis yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu dipilih melalui kompetisi video blog tingkat nasional, yang diadakan Plan International.

Mereka dipilih dari sekitar 600 kandidat, yang diseleksi hingga mencapai 40 finalis. Ke-40 finalis itu kemudian diseleksi lagi hingga menyisakan 15 finalis kategori umum, dan 7 peserta dari jalur khusus.

Mingming menjelaskan, dalam acara ‘Sehari Jadi Menteri,’ sang menteri akan memimpin rapat, layaknya rapat di kementerian, yang membawahi sejumlah deputi atau dirjen, yang juga dipilih dari anak berusia 15-18 tahun. Even ini adalah bagian dari gerakan pemberdayaan anak perempuan bertajuk ‘Because I Am A Girl’ atau BIAAG Movement, yang digagas Plan International.

“Gerakan ini mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan juga dunia usaha untuk memberikan kesempatan bagi anak perempuan untuk belajar, memimpin, mengambil keputusan, serta mengembangkan potensi maksimalnya, guna meningkatkan kualitas hidup anak perempuan di seluruh dunia,” ujarnya menjelaskan. (Heri CS)

Artikel sebelumnyaKembangkan Aplikasi “Hafiz Helper”, UNY Raih Emas di ajang IYIA
Artikel selanjutnyaTurunkan Harga Gas Industri, Terobosan Apa yang Mesti Diambil Pemerintah?