Musim Kemarau Basah, Petani Demak Galau Harus Menanam Apa

Semarang, Idola 92.6 FM – “Singgang” adalah sebutan dalam bahasa Jawa yang artinya tanaman padi yang tumbuh dan berbuah kembali dari batang yang sudah dipotong saat padi dipanen. Padi ini dikategorikan sisa yang biasanya masih dimanfaatkan petani untuk diambil meskipun hasilnya sedikit.

Singgang-singgang itulah yang kini terlihat di areal-areal persawahan di Kab Demak, Jawa Tengah. Batang padi dibiarkan tumbuh dan lahan persawahnya terlihat tidak ditanami apa-apa, ada juga yang ditanami tanaman musim kemarau, yaitu kacang hijau yang biasa ditanam pada musim kemarau paska musim panen padi ke dua.

Hal ini lah yang dilakukan banyak petani, mereka membiarkan sawahnya tidak ditanami atau terpaksa menanam kacang hijau meskipun banyak juga yang menananm padi kembali. Petani nampak galau harus menanam apa setelah musim panen kedua awal Juli 2016 ini.

Kegalauan itu melihat persawahan yang masih basah sehingga tidak baik apabila ditanami kacang hijau. Namun jika ditanami padi pun, petani takut kalau saat pertengahan masa tumbuhan padi selama tiga bulan gagal karena bisa saja musim kemarau datang sehingga sawah kekurangan air.

Menteri Pertanian Menganjurkan Petani Menanam Padi Karena Fenomena ‘La Nina’

Areal persawahan yang dibiarkan belum ditanami. (photo: Diaz Abidin)
Areal persawahan yang dibiarkan belum ditanami. (photo: Diaz Abidin)

Areal persawahan yang basah itu adalah imbas dari fenomena ‘La Nina’ yang menyebabkan musim penghujan mundur sampai akhir Juli bahkan mungkin masih ada intensitas hujan pada bulan Agustus.

Sebelumnya, seperti dilansir Antara, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam kunjungan kerjanya di Kab Jepara baru-baru ini mengisyaratkan agar petani sesegera mungkin menanam padi kembali secara serentak setelah musim panen kedua. Hal itu melihat efek mundurnya musim penghujan, sehingga petani diharapkan bisa cepat memanen padi kembali dan memanennya pada akhir tahun.

Namun, tidak adanya tindak lanjut dari Pemkab masing-masing daerah untuk meneruskan himbauan dari Menteri Pertanian agar petani menanam padi kembali kepada petani, membuat himbauan itu tidak diketahui masyarakat terutama di Kab Demak Jawa Tengah.

Kini banyak petani di Kab Demak yang banyak menanam kacang hijau yang rata-rata berusia kurang dari satu minggu meski lahan sawah masih basah. Bahkan sebagian kacang hijau yang tumbuh, mati karena terendam air di lading persawahan yang seharusnya bisa kering setelah musim panen ke dua. Meskipun banyak petani di beberapa wilayah berani menanam padi.

Ali, salah satu petani di Ds Blambangan, Kec Wonosalam, Demak, Kamis (21/7) mengungkapkan dirinya sudah menanam kacang hijau beberapa hari sebelumnya. Dia mengakui memang ragu untuk menanam kacang hijau karena basahnya areal persawahan saat ini.

“Ini nyebar kacang hijau lagi, banyak yang mati,” katanya yang pagi itu harus menanam kacang hijau dengan cara melempar biji kacang untuk menyebar secara merata di lahan sawahnya setelah banyak tanaman yang berusia muda yang tumbuh beberapa hari sebelumnya mati karena terendam air. Sehingga perlu pembaruan benih kembali agar lahan bisa ditumbuhi tanaman secara merata.

Dia mengeluhkan bila memang seharusnya ada penyuluhan atau sosialisasi dari pemkab setempat untuk petani. Hal itu agar petani bisa secara serentak bisa menanam baik padi atau kacang hijau, serta penanganannya jika salah menanam.

Senada dengannya, Abdul Rozak, petani lain di Kec Bintoro, Demak juga terpaksa menanam kacang hijau. Karena petani lainnya di sekitar areal persawahan wilayah itu memilih menanam kacang hijau.

“Asal saya tanam kacang hijau. Soalnya yang lain juga (nyebar, red) kacang. Mudah-mudahan berhasil,” tandasnya yang menggarap beberapa petak sawah.

Tanggapan Dinas Pertanian Demak

2016-07-21-1C

Dihubungi Radio Idola, Staf Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kab Demak, Kiswan, membenarkan bahwa sebagian petani di wilayah itu ada yang gagal tanam, karena musim kemarau tapi masih tetap ada hujan. Seperti tanaman kacang hijau yang tidak bisa tumbuh karena terkena air hujan.

Mengenai tanaman kacang hijau yang mati, ia menjelaskan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanggulanginya diantaranya dengan membuatkan saluran untuk membuang air agar tidak menggenangi lahan. Namun permasalahannya air belum tentu bisa dibuang karena merupakan sawah tadah hujan.

Kiswan menerangkan, bahwa ada petani yang beralih menanam padi dan ada yang tetap menanam tanaman kacang hijau dengan tetap membuatkan saluran air. Kemudian ada yang menanam buah semangka, melon dan lain-lain diwilayah tertentu.

Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa hampir diseluruh kecamatan (wedung dan mijen) masyarakat menanami lahannya dengan padi, yaitu sekitar 527 hektar lahan sudah pasti tanam padi. Akan tetapi ada juga yang lahannya tidak ditanami apa-apa sambil menunggu musim tanam berikutnya.

Sementara di Kec Wonosalam terdapat sekitar 200 hektar tanam padi. Sedangkan lainnya memang ditanami kacang hijau yang ditakutkan akan gagal tanam mengingat permasalahan ini.

Petani hanya berharap kalau pemerintah setempat bisa menanggapi permasalahan ini secara dini dan cepat sehingga tidak menimbulkan kegalauan dan kerugian yang bisa terjadi. Adapun penyuluhan dan sosialisasi juga bisa dilakukan secara rutin misalnya melalui kelompok-kelompok tani yang bisa menjadi wadah untuk sosialisasi. (Diaz A/Heri CS)

Artikel sebelumnyaTopic Of The Day: 56 Tahun Korps Adhyaksa, Bagaimana Menjadi Professional?
Artikel selanjutnyaRatusan Warga Pati Datangi Kejati Jateng Tuntut Penyelesaian Korupsi Dana KONI