Bagaimana Meningkatkan Budaya Literasi Untuk Menanggulangi Hoax

Hoax Or Real

Semarang, Idola 92.6 FM – Rendahnya kesadaran literasi ditengarai menjadi salah satu faktor pendorong masifnya peredaran kabar bohong atau hoax. Dengan budaya baca yang rendah, masyarakat menelan informasi secara instant tanpa berupaya mencerna secara utuh. Masyarakat yang kesadaran literasinya rendah menjadi ladang subur peredaran hoax.

- Advertisement -

Merujuk harian Kompas (7/2), Inisiator komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menyebut, bangsa kita bukan bangsa pembaca, tetapi bangsa ngerumpi. Informasi yang diterima langsung diyakini sebagai sebuah kebenaran, lalu berupaya membagi informasi tersebut kepada orang lain. Di sisi lain, fenomena hoax sebenarnya juga terjadi di Negara-negara lain di dunia, namun di Indonesia dampaknya lebih luas dan masif.

Hal itu relevan dengan catatan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa). Indeks membaca bangsa Indonesia menurut UNESCO pada tahun 2012 hanya 0,001. Artinya, di antara 1.000 orang, hanya satu orang yang membaca secara serius. Demikian pula catatan survey Most Literated Nation in The World (2015) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara.

Lantas, bagaimana meningkatkan budaya literasi untuk menangkal kabar bohong (hoax)? Benarkah penyebaran kabar hoax juga relevan dengan tingkat literasi? Benarkah pula, bahwa maraknya kabar hoax akhir-akhir ini, hanya menjadi semacam alat perang dan politik propaganda jelang Pilkada Serentak?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, nanti kita akan berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Gufran A. Ibrahim (Kepala Pusat pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, serta Guru Besar Antropolinguistik Universitas Khairun Ternate) dan Tommy F. Awuy (Dosen Filsafat Universitas Indonesia). (Heri CS)

Berikut Perbincangannya: