Bagaimana Menerapkan “Kesalehan Keluarga” sebagai Model Pola Asuh Anak di Lingkungan Keluarga?

Semarang, Idola 92.6 FM – Keluarga merupakan bagian integral dari tripusat pendidikan yakni keluarga itu sendiri, sekolah atau lembaga pendidikan, dan masyarakat. Anak-anak kita memperoleh pendidikan di sekolah dengan berbagai kebijakan formal yang cukup ketat serta mendapat pengaruh dan masukan dari lingkungan masyarakat tetapi lingkungan keluargalah yang memiliki peran besar sebagai filter moral. Keluarga sebagai inti dari masyarakat yang lebih besar—bagaimanapun merupakan garda depan dalam proses penanaman nilai-nilai budi pekerti luhur pada anak-anak.

Menurut Ravik Karsidi-Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam opini di Kompas (02/08/2018), secara sosiologis keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang berfungsi mengembangkan perilaku anggota keluarga dalam wujud penempaan jiwa dan semangat hidup menuju cita-cita kebahagiaan hidupnya. Setiap keluarga, dalam konteks ini termasuk keluarga Indonesia, memiliki idealisme dalam mengelola hidup demi kebahagiaan semua anggotanya.

Karena itu, terkait posisi strategis dan peran keluarga inilah diperlukan kemampuan mereka dalam penguatan literasi digital. Orangtua dan segenap anggota keluarga yang dewasa tidak boleh permisif bahkan tidak tahu menahu atau tidak punya kepedulian tetapi semakin dituntut untuk melek digital.

Lantas, di tengah berbagai ancaman dampak buruk penggunaan gawai dan media social, bagaimana menerapkan “kesalehan keluarga” sebagai model pola asuh anak di lingkungan keluarga? Bagaimana memberikan pemahaman kepada anggota keluarga bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam tumbuh kembang anak? Lantas, dalam penguatan literasi digital di mana peran negara dalam melindungi segenap tumpah darah bangsa?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: F. Budi Hardiman (Pengajar Filsafat di Universitas Pelita Harapan Jakarta), dan Ratna Megawangi PhD (Pemerhati pendidikan, pendiri Indonesia Heritage Foundation). [Heri CS]

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaMencermati Payung Hukum bagi Seluruh Jenis Fintech di Indonesia, Apa dan Bagaimana?
Artikel selanjutnyaPolisi Yang Terlibat Kasus Penjualan BBM Ilegal Masih Diperiksa Intensif

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini