Membaca Fenomena Tanah Ambles di Jl Raya Gubeng Surabaya, Apa Sebenarnya yang Terjadi? Ini Karena Faktor Alam atau Kelalaian Manusia?

Tanah ambles di Jl Raya Gubeng Surabaya.

Semarang, Idola 92.6 FM – Baru-baru ini publik dihebohkan dengan kejadian fenomena tanah ambles di Jalan Raya Gubeng Surabaya. Dugaan sementara, amblesnya tanah dipicu karena pembangunan basement parker RS Siloam di sisi jalan yang tidak memenuhi aturan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut, peristiwa amblesnya tanah di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, pada Selasa (18/12) malam, disebabkan oleh kesalahan konstruksi pembangunan rumah sakit, bukan gempa. Menurut dia, pembangunan rubanah atau basement rumah sakit itu tidak menggunakan dinding penahan atau retaining wall.

Walhasil, terjadi dua kali amblesan tanah, yakni pukul 21.41 WIB dan 22.30 WIB, dan menghasilkan cekungan dengan kedalaman 30 meter dengan lebar 8 meter. Ia pun menyamakan fenomena tersebut dengan kejadian jalan ambles yang juga terjadi di area penggalian batubara di Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.

Tanah ambles di Jl Raya Gubeng Surabaya.

Sutopo juga memastikan tanah ambles itu tidak ada hubungannya dengan aktivitas tektonik atau gempa bumi dan bukan merupakan likuefaksi karena tidak ada fenomena mencairnya material tanah di lokasi kejadian. Ia pun menyarankan untuk segera dibentuk tim independen guna menyelidiki kejadian tersebut. Selain itu, kata Sutopo, Pemerintah Kota Surabaya harus mengevaluasi proses perizinan dan mekanisme pengawasan terhadap pelaksanaan konstruksi. Lantas, dari kacamata Ilmu Geologi apa yang terjadi? Ini karena faktor alam atau kelalaian manusia? Apa sesungguhnya faktor yang bisa memicu amblesnya tanah? Dengan melihat fenomena di Gubeng ini, apa yang ke depan mestinya dilakukan pemerintah terutama Pemkot Surabaya? Apakah kejadian ini juga berpotensi terjadi di kota-kota lain?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)/ Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia 2011-2014 Rovicky Dwi Putrohari. (Heri CS)

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Merobohkan Sekat-Sekat Iman, Diantara Berbagai Isu Intoleransi di Alam Demokrasi?
Artikel selanjutnyaGanjar: Saya Minta Satgas Nataru Bisa Optimal Layani Masyarakat

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini