Membaca RAPBN 2019 dan Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo, Bagaimana Menjawab Tantangan Ekonomi Indonesia ke Depan?

Semarang, Idola 92.6 FM – Seperti tahun sebelumnya, isu ekonomi kembali banyak disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-73 RI di hadapan sidang bersama DPR dan DPD. Dari 70 paragrap yang ada dalam teks pidato tersebut, 15 paragrap mengupas soal ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Kondisi ini ditengarai tak lepas dari sorotan public belakangan ini terhadap kinerja pemerintah di dua bidang tersebut. Dengan menggunakan pendekatan Nawacita yang merupakan program prioritas pemerintahan Jokowi-JK sejak terpilih pada 2014. Terlihat bahwa pidato kenegaraan yang dibacakan pada tahun keempat ini lebih banyak menyebutkan agenda keenam dalam Nawacita.

Poin keenam itu menyoal upaya pemerintah dalam meningkatkan prouktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. Dari penjabaran poin keenam Nawacita ini, sejumlah diksi disebut presiden. Di antaranya, ekonomi, daya saing, produktivitas, pasar internasional, MEA, ekspor, impor, nilai tukar rupiah, tenaga kerja asing, investasi, dan infrastruktur. Hasil analisis Litbang Kompas 35,9 persen isi pidato Presiden lebih banyak berbicara soal ekonomi.

Diksi-diksi yang banyak muncul dan merepresentasikan program prioritas keenam dalam Nawacita dari teks pidato itu adalah pembangunan, infrastruktur, ekonomi, dan investasi. Temuan ini relevan dengan semangat yang ada dalam poin isu ekonomi yang dibawakan Presiden dalam pidatonya yakni memperkokoh stabilitas makroekonomi dan meningkatkan kualitas pertumbuhan, memastikan tercapainya tujuan keadilan ekonomi, menyiapkan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan dalam jangka panjang, serta melakukan reformasi structural untuk peningkatan daya saing ekonomi.

Lantas, apa maksudnya Politik Anggaran Berparas Humanis? Apakah sebelumnya tak humanis? Persoalan ekonomi juga menjadi persoalan yang dominan disampaikan presiden. Apakah ke depan memang persoalan ekonomi ini menjadi permasalahan krusial bagi Indonesia? Hal apa yang mestinya menjadi prioritas dan focus pemerintah untuk mengatasi berbagai persoalan? APBN 2019 disusun di tengah situasi ekonomi yang menghadapi berbagai tantangan dan tekanan, sudahkah mencerminkan upaya antisipatif dengan tantangan ekonomi ke depan? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Yustinus Prastowo (Direktur Eksekutif CITA). [Heri CS]

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaDinkes Slawi Targetkan Open Defecation Free Pada 2019 Mendatang
Artikel selanjutnyaBagaimana Menumbuhkan Spirit Nasionalisme untuk Mewujudkan Cita-Cita dan Tujuan Berbangsa dan Bernegara?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini