Mengembangkan Keterampilan Literasi yang Berbudaya

Semarang, Idola 92.6 FM – Minat baca yang tinggi mampu membuat anak-anak memiliki penalaran yang kuat, kreativitas mumpuni, perspektif yang luas, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Namun sayangnya, sejumlah riset mengungkap daya literasi di Indonesia masih jauh di bawah negara lain.

- Advertisement -

Berdasarkan The World Most Literate Nation, tingkat literasi Indonesia berada di rangking 60 dari 61 negara di dunia. Dalam riset CIA World Factbook tahun 2014, Indonesia berada di urutan ke-121 untuk negara dengan tingkat melek huruf sebesar 92,8 persen. Satu tingkat saja di bawah Afrika Selatan dengan tingkat melek huruf sebesar 93 persen dan setingkat di atas Myanmar dengan tingkat melek huruf sebesar 92,7 persen. Ini berarti masih ada 7,3 persen masyarakat di Indonesia yang masih perlu bantuan orang lain saat harus sekedar membaca plang di pinggir jalan atau berita terhangat di koran lokal.

Terkait dengan budaya literasi, Indonesia kalah jauh dengan negara-negara kecil seperti Andora, Liechtenstein, Luxemburg, atau Vatikan dengan tingkat melek huruf mencapai 100 persen. Indonesia bahkan kalah dari Korea Utara, negara komunis nan misterius yang rajin dilanda kasus kelaparan, namun sukses meraih tingkat melek huruf sampai 100 persen.

Tak hanya masih menyisakan PR untuk membuat warganya memiliki kemampuan baca-tulis dasar, pemerintah Indonesia juga berhadapan dengan persoalan laten tentang rendahnya minat baca. Literasi dan Pengembangan Keterampilan menunjukkan bahwa keaksaraan bukan hanya sekadar prioritas pada aspek baca, tulis, hitung (calistung) tetapi juga pentingnya pengembangan keterampilan sebagai investasi yang sangat penting bagi masa depan dan kemajuan bangsa yang bermartabat.

Keberaksaraan atau literasi dirumuskan oleh World Economic Forum pada tahun 2016 merupakan kecakapan orang dewasa pada abad 21. Terdapat enam literasi dasar yang harus dikuasai oleh setiap orang dewasa, yakni: baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

Baru-baru ini, kita memperingati Hari Aksara Internasional ke-53. Hari Aksara Internasional ditetapkan pada 8 September melalui Konferensi UNESCO pada tanggal 26 Oktober 1966. Sejak penyelenggaraan Hari Aksara pertama pada tahun 1966, peringatan ini terus dilakukan oleh dunia setiap tahun sebagai wujud memajukan agenda keaksaraan di tingkat global, regional, dan nasional. Puncak acara secara nasional yang dipusatkan di Deli Serdang Sumatera Utara mengambil tema ā€¯Mengembangkan Keterampilan Literasi yang Berbudayaā€¯.

Lantas, merefleksi Hari Aksara Internasional, di tengah masih buruk budaya literasi kita, upaya apa yang mesti terus dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini? Bagaimana pula mengembangkan keterampilan literasi yang berbudaya sehingga menghasilkan manusia-manusia yang literate?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof Dadang Sunendar dan pegiat literasi dari Surabaya Satria Dharma. [Heri CS]

Berikut diskusinya: