Ungaran, Idola 92.6 FM – Gunung Ungaran merekam banyak kenangan pada kehidupan sastrawan NH Dini. Sejak remaja pula ia sudah mengenal Ungaran, sebuah kota di lereng Gunung Ungaran. Meski kemudian berpindah-pindah ke luar negeri dan luar kota, ke kaki Gunung Ungaran pula–penulis puluhan novel itu akhirnya kembali.

Demikian mengemuka dalam acara Sarasehan dan Bedah Novel Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya di Aula Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran, Selasa (15/5) pagi. Dalam acara yang digelar Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat UPGRIS dan Prodi Sastra Inggris UNW itu pengaran yang memiliki nama lengkap Nurhayati Sri Hardini itu berbagi seputar proses kreatif dan penciptaan novel terbarunya Gunung Ungaran yang diterbitkan Media Pressindo, Yogyakarta, 2018.

Sebagai pengulas novel: Pipit Mugi Handayani (sekretaris HISKI Pusat), Trie Ari Bowo (dosen Sastra Inggris UNW), dan Heri C Santoso (pegiat Komunitas Lereng Medini Boja Kendal). Hadir pula Ketua HISKI Komisariat UPGRIS Nurhidayat dan Wakil Rektor I UNW Raharjo Apriyatmoko.

Gunung Ungaran menjadi karya ke-15 dari novel seri kenangan, melengkapi karya-karya sebelumnya. Di antaranya Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981), Pondok Baca, Kembali ke Semarang (2011), Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (2012), dan Dari Ngaliyan ke Sendowo (2015). Buku cerita kenangan NH Dini dibagi dalam 3 masa: kanak-kanak, remaja dan dewasa dimana masing-masing masa diwakili 5 buku.

Menurut penulis kelahiran Semarang, 29 Februari 1936, pindah rumah yang dialami berkali-kali baik di luar negeri, di dalam kota dan ke luar kota memberikan banyak pelajaran hidup bagi Dini. Di usianya yang kini memasuki 82 tahun, ia semakin menjadi semeleh dan melepaskan diri dari “kemelekatan” akan kefanaan. Ajaran Buddhisme itu, ia dapatkan dari Bhante Pannavaro dari Sanggha Teravada, Vihara Mendut.

“Wong urip iku mung mampir ngombe. Orang hidup itu ibarat hanya singgah untuk minum. Semua di dunia ini tidak ada yang abadi,”ujar Dini dalam novel setebal 408 halaman tersebut. “Dengan bertambahnya usia, berpikir praktis yang didasari kegunaan sesuatu barang lebih menguasai kepalaku daripada kehendak memiliki.”

Bermula dari Catatan Harian

Di hadapan puluhan mahasiswa, Dini bercerita, semua cerita yang ditulisnya diawali dari catatan. Setiap peristiwa yang dilalui dicatatnya. “Saya menulis selalu diawali dengan pengumpulan bahan dari catatan,” ujar NH Dini yang tahun lalu meraih Penghargaan Sepanjang Masa atau Lifetime Achievement dari penggagas Ubud Writers & Readers Festival.

Saat proses menulis kembali catatan itu, lanjut Dini, ia seperti melihat adegan-adegan yang hendak ditulisnya. Ia menyebut, itu seperti anugerah atau wahyu yang tak terkira baginya. “Jika hendak menulis catatan, di benak saya tiba-tiba seperti ada film yang berputar,” ujar Dini yang juga seorang pelukis ini.

Gunung Ungaran berkisah tentang kehidupan NH Dini di usia senjanya bersama orang-orang yang mengasihinya. Diawali dengan banyak kesulitan demi keinginan hidup nyaman dan tinggal berpindah-pindah, Dini akhirnya menetap di Lerep, lereng Gunung Ungaran. Di Lerep, berbagai kegiatan dihayati, dicatat sembari tetap beraktivitas di jagat kepenulisan.

Di usia yang kian menua, anak bungsu dari pasangan Raden Mas Salyowijoyo dan Raden Ayu Kusaminah ini masih memenuhi undangan ke berbagai daerah atau luar negeri untuk membagi pengalaman proses kreatifnya. Hingga kemudian, ia menemukan wisma baru yang dinilainya lebih baik untuk menjadi tempat tinggal yang baru di Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik. NH Dini menyebut Banyumanik sebagai kawasan di kaki Gunung Ungaran.

Suara Perempuan Pemetik Kenangan

Atas capaian literaturnya, Pegiat Komunitas Lereng Medini Heri CS, dalam sesi bedah buku menjuluki NH Dini sebagai “Perempuan Pemetik Kenangan”. Di usia 82 tahun, Bu Dini masih lancar menulis dan ritmenya tetap terjaga seperti karya-karya sebelumnya yang ditulis saat muda seperti Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), dan Namaku Hiroko (1977) yang merupakan karya-karya masterpiece-nya.

“Pada novel Gunung Ungaran, dari remah-remah kenangan yang ditulisnya, Dini mampu menyisipkan pesan sosial, kritik, hingga suara batin perempuan di tengah keterkungkungan budaya patriarki,” ujar pengelola Pondok Baca Ajar ini.

Melalui karya Gunung Ungaran, Dini seolah menolak tua bersama orang-orang di sekelilingnya. “Gunung Ungaran adalah ikhtiar Nh Dini untuk terus merawat ingatan dan melawan lupa.”

Setelah membaca novel ini, Heri mengaku semakin mengenal sosok Nh Dini. Begitu relijius-nya seorang Nh Dini. Relijius namun tak moralis. Ia mengakui, meski ia tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga Islam namun justru meneguhi ajaran-ajaran Kejawen. Ia begitu kukuh memegang spirit Jawa.

Heri menuturkan, menurut Dini dalam buku ini, beragama bukan semata karena pahala. Itu semua ia teladani dari orangtuanya. “Kehidupan nyata yang kami lihat dan kami hayatilah yang lebih ditekankan orangtua pada kami, bukan ‘promosi’ seribu macam pahala yang konon akan dihadiahkan Gusti Allah kelak di akhirat. Tepa selira atau tenggang rasa adalah pokok ajaran orangtua kepada kami,” ujar Heri mengutip apa yang ditulis NH Dini di halaman 6 novel Gunung Ungaran.

Gunung Ungaran sebagai “Axis Mundi”

Sementara itu, Trie Ari Bowo, dosen Sastra Inggris UNW, novel Gunung Ungaran tak melulu membicarakan gambaran kehidupan masyarakat sekitar Gunung Ungaran atau menceritakan kisah hidup NH Dini selama di Ungaran. Novel ini menyimpan makna yang lebih.

Menurutnya, gunung dalam novel ini menjadi “axis mundi”, kesadaran universal yang menghubungkan semua yang ada. Istilah gunung yang dipakai Dini tak hanya bermakna leksikal namun juga sebagai simbol bahwa gunung mempunyai makna agung di kebudayaan Jawa dan dunia. “Singkatnya, gunung merupakan filosofi yang menggambarkan tingkatan pencapaian makna hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris HISKI Pusat Pipit Mugi Handayani menyatakan, acara ini sebagai bagian dari upaya HISKI dan UNW untuk menghidupkan sastra di kampus. Sebuah kebanggaan baginya bisa menghadirkan maestro sastra NH Dini. “Harapannya, ini ke depan mampu menjadi pemantik kajian sastra lebih lanjut,” ujarnya. (hcs)

Artikel sebelumnyaBagaimana Membentengi Keluarga sebagai Fondasi Bangsa dari Ancaman Radikalisme?
Artikel selanjutnyaPemerintah Berikan Bantuan Rp15 Juta Kepada Korban Ledakan Bom