BMKG Minta Nelayan Waspada Terhadap Gelombang Tinggi

Semarang, Idola 92.6 FM – Saat ini, gelombang di perairan Laut Jawa tertinggi mencapai 2,5 meter. Sehingga, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Tanjung Emas Semarang mengingatkan kepada nelayan untuk mewaspadai adanya gelombang tinggi di wilayah perairan Laut Jawa.

Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Semarang Slamet Wiyono mengatakan gelombang tinggi yang diperkirakan hingga 3-7 hari ke depan itu, berkisar antara 1,25 meter sampai 2,5 meter. Yakni, terjadi di Laut Jawa bagian Tengah dan perairan selatan Kalimantan.

“Terutama di Laut Jawa bagian tengah hingga selatan Kalimantan itu nelayan mesti waspada, karena gelombangnya masih dalam kategori menengah. Gelombangnya antara 1,25 meter sampai dengan 2,5 meter. Untuk di Pantai Utara Jawa Tengah masih relatif aman perairannya. Jadi, yang untuk Pantai Utara Jawa Tengah itu sekitar 1,25 meter. Jadi, mohon kewaspadaan untuk tiga hari ke depan. Nanti, akan kita update terus data terbarunya. Kalau untuk Karimunjawa di sebelah selatannya itu masih di kisaran gelombang rendah, sekitar 1,25 meter ke bawah. Tapi, yang utara Karimunjawa itu yang perlu waspada bisa mencapai 2,5 meter,” kata Slamet belum lama ini.

Slamet menjelaskan, gelombang tinggi itu disebabkan pola sirkulasi angin di wilayah Kalimantan dan Samudera Pasifik. Sehingga, para nelayan saat melakukan aktivitas di wilayah perairan Laut Jawa dan perairan selatan Kalimantan untuk memerhatikan tinggi gelombang di lautan.

Menurutnya, untuk kekuatan angin diperkirakan mencapai 20 knot dan berpotensi mengancam aktivitas melaut para nelayan.

“Dengan potensi kekuatan angin yang mencapai 20 knot itu, berdampak pada badai siklon Tropis Legima dari arah Samudera Pasifik dan Laut Filipina. Selain itu, perlu diwaspadai juga adanya potensi pusaran angin kencang di perairan lautan,” jelasnya.

Slamet menyatakan, gelombang tinggi secara klimatologi terjadi pada Januari-Februari dan Agustus. Kemudian pada September-Oktober dan November akan turun. Nantinya, akan naik lagi pada Desember dan puncaknya Januari 2020. (Bud)

Artikel sebelumnyaTinggal Penlok, Tol Solo-Yogya Siap Konstruksi
Artikel selanjutnyaYuwanto: Anggota DPRD Jateng Yang Baru Harus Tidak Terkekang Politik Kepentingan

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini