BPJS Ketenagakerjaan Ajak Pelaku UMKM Pahami dan Kelola Risiko

IBG Oktober 2019

Semarang, Idola 92.6 FM – Sebanyak 80 persen pekerja kita berasal dari sektor informal atau UMKM, sementara sisanya, 30 persen dari sektor formal. Mereka yang berasal dari sektor formal rata-rata sudah patuh, memahami dan menyadari pentingnya mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan.

- Advertisement -

Demikian diungkapkan Kabid Kepesertaan Bidang Khusus BPJSTK Semarang, Yunan Shahada, dalam Idola Business Gathering, yang digelar Radio Idola Semarang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Kota Semarang, Rabu (30/10/2019) pagi di Ballroom 1 PO Hotel Jl Pemuda No 118 Semarang.

Yunan Shahada
Yunan Shahada, Kabid Kepesertaan Bidang Khusus BPJSTK Semarang.

Dalam acara yang mengambil tema “Maju Usahanya, Bahagia Hidupnya, dan Terjamin Hari Tuanya,” hadir pula narasumber: Bambang Suronggono (Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang) dan Syanaz Nadya (Owner Roro Kenes & Ketua ICSB Semarang). Acara yang dipandu moderator Nadia Ardiwinata ini diikuti ratusan pelaku UMKM dan masyarakat.

Menurut Yunan, ini menjadi tantangan bagi pemerintah agar pelaku UMKM bisa terlindungi program jaring sosial pemerintah yakni BPJS Ketenagakerjaan. Sebab, dari 80 persen jumlah UMKM, mungkin baru sekitar 10 persen yang mendaftar pada BPJS Ketenagakerjaan. “Ini tugas bersama pemerintah, Dinas Koperasi dan UMKM bahwa BPJS Ketenagakerjaan adalah kebutuhan dan layak dimiliki,”ujarnya.

Yunan mengungkapkan, di Kota Semarang, sektor UMKM, belum terlalu banyak yang mengikuti BPJS Ketenagakerjaan. Dalam upaya jemput bola, pihaknya baru-baru ini melakukan kerja sama dengan koperasi Pertamina. “Kami mengundang 100 agen pangkalan. Respons mereka positif sebab dengan premi terjangkau yakni Rp13.500 per bulan, mereka dilindungi,” tuturnya.

Di hadapan ratusan pelaku UMKM, Yunan berpesan, apapun dalam kehidupan ini selalu ada risiko. Namun, kuncinya, risiko itu akan kita biarkan atau dikelola. “Nah, bersama BPJS Ketenagakerjaan, kami ingin pelaku memahami risiko dan mengelola risiko itu. Harapannya, bagi pelaku UMKM, maju usahanya, bahagia hidupnya, dan terjamin hari tuanya,” tutur Yunan.

Jumlah UMKM Kota Semarang Capai 17 Ribuan

Bambang Suronggono
Bambang Suronggono, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang.

Sementara itu, jumlah UMKM di Kota Semarang terus tumbuh signifikan. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) Kota Semarang mencatat, di Kota Semarang hingga pertengahan Oktober 2019 mencapai 17.010 pelaku. “Jumlah ini tumbuh pesat dari sebulan sebelumnya yang hanya mencapai 16.500 pelaku,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Bambang Suronggono.

Menurut Bambang, dalam upaya terus mendukung tumbuh kembang pelaku UMKM, Pemkot terus melakukan berbagai upaya. Di antaranya melalui program Kredit Wibawa atau Wirausaha Bangkit Jadi Jawara dan Gerai Kopi dan Mi atau Gerakan Terintegrasi Koperasi & Mikro.

“Di era digital ini, Pemkot Semarang juga memfasilitasi perizinan berwirausaha melalui sistem online, yakni “I Jus Melon” atau Izin Usaha melalui Online,” tandasnya.

Kepada pelaku UMKM, Bambang berpesan, ada 4 kunci sukses bagi wirausahawan. Pertama, miliki pemikiran positif. Kedua, berpikir sederhana. Ketiga, harus membangun relasi dan kolaborasi.

Syanaz Nadya
Syanaz Nadya, Owner Roro Kenes & Ketua ICSB Semarang.
“Dan, keempat, kita harus solid. Bergerak bersama agar usaha mandiri, berdikari dan sehingga pelaku UMKM bisa berpenghasilan tinggi,” ujarnya.

Sementara, Syanaz Nadya, Owner Roro Kenes & Ketua ICSB Semarang mengemukakan, orang berbisnis itu seperti naik sepeda. “Jika kita berhenti maka kita akan jatuh. Harus selalu bergerak, kretif, dan inovatif,” ujarnya.

Ia juga menekankan, manfaatkan fasilitasi yang dilakukan pemerintah seperti layanan program jarring sosial BPJS Ketenagakerjaan. “Gunakan ini sebaik-baiknya untuk jarring keamanan sosial kita, demi bisnis kita,” tandasnya. (her)

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini