Hingga Usia 73 tahun Merdeka, Mengapa Bidang Farmasi Indonesia Masih Terus Bergantung pada Impor?

Semarang, Idola 92.6 FM – Indonesia sudah meniti usia 73 tahun merdeka. Masih banyak persoalan krusial bangsa yang belum bisa dientaskan. Salah satunya, persoalan di bidang kesehatan—khususnya kemandirian bidang farmasi atau obat-obattan. Padahal hal itu termasuk salah satu bidang yang menjadi kebutuhan vital warga bangsa. Di sisi lain, sesungguhnya, industri farmasi dan bahan farmasi diandalkan sebagai salah satu industri prioritas penggerak perekonomian Indonesia.

Akan tetapi, fakta yang membuat kita mengelus dada—di bidang farmasi kita masih sangat bergantung pada impor. Industri farmasi di Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku. Kita belum mampu melakukan swasembada obat.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), impor Indonesia pada Januari hingga Februari 2019 sebesar 27,193 miliar dollar AS. Dari impor senilai itu, 75,1 persen di antaranya berupa bahan baku dan penolong. Adapun sisanya, sekitar 16,71 persen, berupa barang modal dan 8,91 persen berupa barang konsumsi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, saat ini Indonesia masih mengimpor bahan baku obat 4 miliar dollar AS dan produkjadi farmasi sekitar 800 juta dollar AS. Airlangga menyampaikan hal itu pada acara pelepasan container ekspor ke-3 ribu dari pabrik PT Bayer Indonesia di Cimanggis Depak ke Eropa, baru-baru ini.

Posisi ini, tentunya sangat riskan bagi Indonesia. Ketergantungan kita pada impor tak hanya berdampak pada aspek ekonomi. Di sisi lain, secara politik, itu membuat kita menjadi Negara yang rentan—tidak independen dan tak berdikari di bidang ini. Ibaratnya, jika Negara yang mengimpor ke kita melakukan hal-hal tertentu akan langsung berpengaruh pada kekuatan ekonomi bangsa.

Lantas, memahami persoalan farmasi, kenapa kita masih begitu bergantung pada impor? Di mana problematikanya? Upaya strategis apa yang mesti dilakukan pemerintah agar keluar dari situasi ini?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, nanti kita akan berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt. (Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta) dan Parulian Simanjuntak (Direktur eksekutif Perkumpulan International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG)). (Heri CS)

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaDinkes Sebut Kasus Leptospirosis di Jateng Masih Tinggi
Artikel selanjutnyaMenyikapi putusan MK terkait Pemilu 2019

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini