STIKES Telogorejo Gelar Praktik Kebidanan Komunitas di Meteseh Boja

tanaman toga
Beberapa tanaman toga yang ditanam mahasiswa yakni seledri, mentimun, kencur, serai, pohon katu, dan bayam merah.

Kendal, Idola 92.6 FM – Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu ancaman penyakit bagi kalangan lansia. Bahkan menurut National Heart, Lung, dan Blood Institute, orang-orang paruh baya berisiko hingga 90 persen mengalami hipertensi di masa senjanya.

Sebagai salah satu upaya preventif dalam mengatasi dampak buruk hipertensi, Tim Mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang melakukan program Praktik Kebidanan Komunitas dan Praktik Komunitas Masyarakat Desa di Desa Meteseh Kecamatan Boja Kabupatan Kendal Jawa Tengah. Program di bawah bimbingan dosen pembimbing Nella Vallen IP ini berlangsung selama 25 November hingga 13 Desember 2019, tepatnya di Dusun Slamet, Meteseh. Program ini juga hasil kerjasama Program Studi D3 Kebidanan STIKES Telogorejo dengan Pemkab Kendal.

Salah satu kegiatan yang dilakukan yakni dengan merintis Tanaman Obat Keluarga atau populer disebut dengan TOGA. Taman obat keluarga pada hakikatnya merupakan sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Sebidang tanah yang dimanfaatkan yakni tanah banda desa yang dikelola Kamituwo Dusun Slamet, Ari Damiyanto.

tanaman toga ditanam mahasiswa
Mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan STIKES Telogorejo sedang menanam Tanaman Toga dalam rangkaian Praktik Kebidanan Komunitas di Desa Meteseh, Boja, Kendal, Minggu (08/12/2019).

Salah satu tanaman yang ditanam yakni seledri. “Seledri menjadi salah satu sayuran yang bisa dikonsumsi para penderita hipertensi. Bisa dibikin jus atau dibikin sayur. Ini cara sederhana dan murah yang bisa dilakukan warga tanpa harus ke dokter,” kata Putri Kurniawati, Ketua Umum Tim Praktik Kebidanan Komunitas Program Studi D3 Kebidanan STIKES Telogorejo Semarang di sela-sela melakukan aksi menanam, Minggu (08/12/2019).

Dalam kegiatan tersebut, mereka secara bergotong royong juga melibatkan perangkat dusun dan warga setempat. Selain seledri, beberapa tanaman dan sayuran yang ditanam yakni: mentimun, pohon katu, binahong, (perawatan ibu nifas), serai, jahe, kencur, dlingo bangle, pohon jarak, dan bayam merah. Setelah acara menanam selesai, dilanjutkan dengan program edukasi pada anak-anak perihal mencuci tangan yang benar di halaman TPQ As Salam Dusun Slamet.

Menurut Putri, selain seledri, tanaman lain yang juga bisa dikonsumsi untuk menekan hipertensi adalah mentimun. Ia menjelaskan, hipertensi merupakan suatu keadaan di mana tekanan daerah meningkat melebihi batas normal yaitu, bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Pemicunya: stress, kelelahan, obesitas, diet yang tak seimbang, konsumsi garam yang tinggi, dan faktor genetik. Tanda-tandanya, antara lain gelisah, sakit kepala, kesemutan, rasa berat di tengkuk, sesak nafas, dan lemas.

“Pencegahannya selain dengan mengonsumsi seledri dan mentimun, yang tak kalah penting adalah dengan berolahraga secara teratur, tidak mengonsumsi garam berlebih, dan perbanyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan,” ujar dara asal Sampangan Kota Semarang ini.

Door to Door Sambangi Warga

Pada awalnya, tim mahasiswa yang terdiri dari 12 mahasiswa dibagi dalam dua kelompok. Mereka menyasar warga di 4 rukun tetangga (RT) dengan mendatangi rumah warga atau door to door. Dari hasil door to door itu kemudian dipetakan dan diidentifikasi. Temuan terbesarnya, sebagian lansia mengidap hipertensi, gejala typhus. Lalu, sebagian warga yang menyusui ada problem pada kelancaran ASI, pada ibu hamil mengalami kekurangan energy kronik, dan pada sebagian anak, mengalami stunting atau gagal tumbuh akibat gizi buruk.

edukasi anak mencuci tangan
Selain program menanam tanaman obat, tim Praktik Kebidanan Komunitas juga melakukan edukasi pada anak perihal budaya mencuci tangan yang baik dan benar, di halaman TPQ As Salam Dusun Slamet, Meteseh, Boja, Kendal.

“Dari itu, kami kemudian membuat program penyuluhan melalui forum posyandu, kelas ibu menyusui, dan edukasi ke masyarakat langsung. Aksi langsungnya penanaman tanaman obat-obattan dan bantuan bagi keluarga yang membutuhkan asupan gizi,” ujarnya.

Sementara itu, anggota tim, Elizabeth menambahkan, stunting meskipun tak banyak juga menjadi catatan tersendiri bagi timnya. Stunting menjadi ancaman SDM generasi bangsa mengingat saat ini Indonesia tengah menyongsong Puncak Bonus Demografi dan Indonesia Emas 2045 mendatang. Stunting menurut penelusurannya, dipicu faktor ekonomi dan pendidikan. “Kasus yang terjadi pada anak stunting, ibunya bekerja dan anaknya diasuh oleh orang lain. Saat dimomong itu, kurang perhatian, susah makan, dan seringnya dibelikan snack atau jajanan sehingga nutrisinya kurang,” ujar perempuan asal Jayapura Papua ini.

Salah satu warga, Suswatun, menyambut baik program yang dilakukan mahasiswa STIKES Telogorejo. Programnya sangat bermanfaat karena tidak semua warga memiliki ilmu pengetahuan seputar kesehatan dan praktik hidup sehat sehari-hari. “Kami berterima kasih atas penyuluhan dan program yang diberikan kepada kami,” ujar Suswatun yang juga istri dari Ketua RT 01 Dusun Slamet Soliyanto. (her)

Artikel sebelumnyaPemprov Jateng Masih Beri Waktu Industri di Sekitar Bengawan Solo Perbaiki IPAL
Artikel selanjutnyaAkhir Tahun, Modena Kenalkan Produk Lemari Es Berkonsep Smart Refrigerator