Bandara Ahmad Yani Terapkan Pembatasan Penerbangan Selama Pandemi

Jaga jarak di ruang tunggu bandara
Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang menerapkan kebijakan jaga jarak di ruang tunggu bandara.

Semarang, Idola 92,6 FM – Pergerakan penumpang pesawat terbang di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang sejak awal tahun, sudah mulai mengalami penurunan akibat wabah virus Korona. Bahkan, hingga Maret 2020 terjadi penurunan jumlah penumpang hingga 31 persen atau 10.443 penumpang per hari.

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang Hardi Ariyanto mengatakan total penurunan penumpang dari Januari hingga Maret 2020, sebesar 13 persen dengan rerata pergerakan penumpang hanya 9.111 orang per hari. Padahal, pada periode yang sama tahun kemarin pergerakan penumpangnya rerata 10.541 per hari.

Hardi menjelaskan, dengan kondisi itu pihaknya kemudian menerapkan pembatasan operasional penerbangan di Bandara Ahmad Yani. Terhitung sejak 1 April hingga 30 April 2020 mendatang, dengan melihat keadaan darurat wabah pandemi.

“Bandara Jenderal Ahmd Yani Semarang telah menerapkan pembatasan operasional penerbangan, sesuai dengan hasil kesepakatan. Sepakat untuk memberlakukan pembatasan operasional penerbangan, dari pukul 06.00 sampai 22.00 WIB. Kami juga telah mendata para penumpang yang berangkat atau turun, dengan membagikan kartu kewaspadaan kesehatan. Hal ini untuk memantau kesehatan para penumpang,” kata Hardi, Selasa (7/4).

Lebih lanjut Hardi menjelaskan, berbarengan dengan pembatasan operasional bandara juga diikuti penurunan frekuensi penerbangan maskapai. Sejak Januari-Maret 2020, jumlah pesawat saat ini ada 36 penerbangan. Sedangkan sebelumnya bisa mencapai 93 penerbangan.

“Kami juga menerapkan protokol baru dalam melayani masyarakat pengguna jasa penerbangan, selama masa pandemi ini. Misalnya informasi yang dilayani petugas dengan tatap muka, sekarang menggunakan layar penghubung secara online kepada petugas,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaMenyoal Ketidaksinkronan Data antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Tanggap Darurat Covid-19
Artikel selanjutnyaMenimbang Politik Digital di Tengah Ketidakpercayaan Publik pada Lembaga Politik dan Perwakilan