Menyongsong Era Normal Baru, Apa yang Harus Diperhatikan dan Tidak Boleh Dilanggar?

Semarang, Idola 92.6 FM-Dua bulan berlalu lebih sejak Covid-19 mulai ramai menghantam Indonesia, imbauan untuk berdiam di rumah saja kini sudah berganti menjadi ajakan untuk berdamai dengan virus corona. The new normal, istilahnya. Artinya, kegiatan ekomoni, pendidikan, maupun sektor-sektor lain dalam kehidupan sudah dipersiapkan agar bisa kembali bergeliat, tapi dengan modifikasi tertentu agar penyebaran penyakit ini bisa tetap berkurang.

Namun, yang menjadi perhatian, tempat publik kembali dibuka dan aktivitas berjalan biasa, virus corona masih tetap ada.  Para ahli memprediksi vaksin corona baru akan ada paling cepat pertengahan tahun 2021. Idealnya, konsep the new normal baru dapat dilakukan saat kurva infeksi sudah melandai, dan menandakan jumlah kasus Covid-19 baru sudah berkurang setiap harinya.

Di Indonesia, kurva ini sama sekali belum landai, bahkan masih terus menanjak dan bisa jadi belum mencapai puncak. Karena itu dengan adanya pembukaan kembali fasilitas publik, masyarakat Indonesia perlu lebih waspada. Jika tiba waktunya Anda harus kembali bekerja di kantor atau si Kecil sudah kembali bersekolah, pencegahan penyebaran Covid-19 jangan malah menjadi kendur.

 Melihat Provinsi DKI Jakarta yang telah menyongsong new normal meski bahasa yang dipilih transisi, publik patut waspada. Di tengah masa transisi, Provinsi DKI Jakarta mencatat lonjakan kasus positif virus corona mencapai 239 orang. Ini  merupakan yang terbanyak sejak diumumkan pertama kali pada Maret lalu. Berdasarkan situs resmi pemantauan corona DKI Jakarta, Selasa (9/6/20), kasus positif bertambah 239 orang sehingga jika dikumulatifkan ada 8.276 orang positif Covid-19 di ibu kota negara saat ini.

Lantas, sudah siapkah kita menghadapi era new normal? Menyongsong new normal, hal apa saja yang perlu dilakukan dan tak boleh disepelekan agar tak memicu gelombang baru kasus Covid-19? Mendiskusikan ini, radio Idola Semarang mewawancara Ahli Epidemiologi Universitas Andalas (Unand) Padang, Defriman Djafri, Ph.D. (her)

https://anchor.fm/radio-idola/episodes/wawancara-bersama-Ahli-Epidemiologi-Universitas-Andalas-Unand-Padang–Defriman-Djafri–Ph-D-ef7nks

 

Artikel sebelumnyaDilema Dunia Pendidikan Menyongsong Tahun Ajaran Baru di Era Pandemi
Artikel selanjutnyaPemprov Jateng Wacanakan Pilkada Serentak Dengan e-Voting di Tengah Pandemi