Pemprov Buat Satgas Jogo Tonggo Untuk Tekan Persebaran COVID-19

Ganjar Pranowo kunjungi pondok boro
Gubernur Ganjar Pranowo mengunjungi pondok boro yang biasa digunakan para perantau beristirahat.

Semarang, Idola 92,6 FM – Wilayah Semarang Raya akhirnya tidak memilih opsi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tetapi memilih opsi dengan mengedepankan kearifan lokal. Pemprov Jawa Tengah bersama kepala daerah Semarang Raya sepakat, pencegahan dan menekan angka persebaran virus Korona dengan konsep “Jogo Tonggo”.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan pihaknya sudah meminta kepada seluruh bupati/wali kota di wilayah Semarang Raya, untuk membuat Satuan Tugas (Satgas) Jogo Tonggo di level RW di lingkungan masyarakat. Gerakan ini, memanfaatkan kekuatan solidaritas masyarakat dengan saling memantau dan menjaga tetangga masing-masing.

Ganjar menjelaskan, konsep “Jogo Tonggo” mengambil semangat solidaritas warga desa yang saling menjaga dan membantu dalam segala hal. Sehingga, dengan upaya ini diharapkan bisa menjaga langkah efektif di dalam menekan penyebaran dan penularan virus Korona.

Menurutnya, gugus tugas di level provinsi hingga kabupaten/kota hingga kecamatan dan desa/kelurahan akan ikut membantu bisa ada persoalan di tengah masyarakat. Karena, gerakan ini juga mencakup jaring pengaman sosial dan ekonomi.

“Saya kira, edukasi kepada masyarakat dan upaya preventif mesti harus dilakukan. Gerakan yang kita miliki di kampung-kampung itu, sebenarnya sangat kuat. Gotong royongnya, tepo slironya, saling tolong menolongnya dan nilai kemanusiaannya itu kuat. Mereka punya daya kohesi yang kuat. Maka, dengan konsep namanya Jogo Tonggo untuk menjaga tetangga. Apakah dia kelompok rentan? Lha ini kita coba jaga bersama-sama. Kalau kemudian bisa saling menjaga dan mencatat kondisi masing-masing, maka pemerintah akan tahu kondisinya,” kata Ganjar, Sabtu (25/4).

Ganjar lebih lanjut menjelaskan, meskipun tidak mengambil opsi PSBB bukan berarti tidak ada sanksi tegas dalam konsep “Jogo Tonggo” ini. Ruang-ruang publik atau tempat aktivitas warga, menjadi areal wajib memakai masker. Apabila kedapatan tidak memakai masker, maka tidak boleh masuk areal tersebut.

“Kita latih masyarakat dengan melakukan tindakan seperti PSBB. Pasar kita coba benahi, yang jual dan pembeli wajib pakai masker. Kalau tidak pakai masker suruh pulang,” tandasnya. (Bud)

https://www.instagram.com/p/B_ZDuhYHGRZ/?utm_source=ig_web_copy_link

Artikel sebelumnyaDinkes Jateng Kerahkan Personel Kesehatan di Setiap Posko Check Point
Artikel selanjutnyaRingankan Beban Masyarakat, Atikoh Bagikan Sembako