Sekolah Virtual di Jateng Diminati Anak Kurang Mampu

SMAN 1 Kemusu Boyolali
SMAN 1 Kemusu Boyolali menggelar persiapan kegiatan belajar mengajar kelas virtual bagi siswa tidak mampu.

Semarang, Idola 92,6 FM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang menggelar program sekolah virtual di masa pandemi ini, dikhususkan bagi anak-anak kurang mampu putus sekolah yang ada di Kabupaten Brebes dan Boyolali. Program tersebut ternyata mendapat respon positif dari masyarakat, terutama anak-anak kurang mampu yang ingin tetap melanjutkan sekolah.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Syamsudin Isnaini mengatakan program sekolah virtual yang digagas itu, untuk saat ini menginduk di SMAN 3 Brebes dan SMAN 1 Kemusu di Boyolali. Setiap kelas dari kedua sekolah itu, berisi 36 siswa saja dan teknis pembelajarannya 70 persen secara daring.

Syamsudin menjelaskan, memang di Jateng angka putus sekolah mencapai sekira 45 ribu anak dan mayoritas karena persoalan pembiayaan. Sehingga, kehadiran program sekolah virtual menjadi solusi dari persoalan tersebut.

Menurutnya, untuk saat ini sekolah virtual masih dilakukan di Brebes dan Boyolali serta belum ada wacana membuka di daerah lainnya hingga berakhirnya tahun ajaran 2020/2021.

“Ini kan diutamakan untuk anak-anak didik yang dari keluarga kurang mampu, dan program ini sangat bermanfaat. Jadi, memang anak-anak yang kemarin tidak ada harapan untuk sekolah negeri atau lainnya ini di dua kelas ini dapat melaksanakan itu. Selama ini upayanya yang kita lakukan dengan adanya kelas virtual ini berbeda dengan anak-anak reguler. Praktik, kalau anak-anak nanti pas kondisi normal full tapak muka kalau ini paling hanya 30 persen tatap muka,” kata Syamsudin, kemarin.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Syamsudin Isnaini:

Syamsudin lebih lanjut menjelaskan, nantinya jika kondisi sudah normal dan pandemi berakhir akan disesuaikan metode pembelajarannya. Namun, tetap porsi paling banyak secara daring.

“Tatap muka hanya dilakukan saat akan ujian kenaikan kelas atau pada saat pertemuan di awal sekolah dan pengerjaan tugas laboratorium. Anak-anak yang tidak punya handphone akan difasilitasi pemerintah,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnya44 Ribuan Pengawas TPS Siap Bekerja
Artikel selanjutnyaBNPB Bentuk Desk Relawan Merapi

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini