Memahami Gaya Amarah Menteri Sosial Tri Rismaharini

Tri Rismaharini
Tri Rismaharini. (Photo: CNN)

Semarang, Idola 92.6 FM – Dalam film The Godfather, tokoh Santino “Sonny” Corleone digambarkan “jatuh” karena emosi. Emosilah yang membuatnya menjadi mudah ditebak oleh musuh dan menguasai caranya membuat keputusan. Pesan Michael Corleone, “Never hate your enemies. It affects your judgement.” (Jangan pernah membenci musuhmu. Itu akan mempengaruhi penilaianmu).

Ungkapan tokoh Corleone dalam Film Godfather itu mengingatkan kita pada aksi marah-marah yang kerap dilakukan Menteri Sosial Tri Rismaharini dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Kami prihatin dengan kebiasaan bu Risma yang suka marah-marah bahkan kalau toh marah-marahnya cukup efektif membuat bawahannya patuh. Karena kemarahan-kemarahan over yang dia tunjukkan, justru memperburuk contoh yang kita pertontonkan, khususnya kepada anak-anak. Mengingat “setiap orang adalah guru…dan setiap tempat adalah sekolahan,” begitu spirit Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.

Di liga Inggris, kalau ada pemain yang memprotes kuputusan wasit dengan marah-marah, maka dia akan dikartu merah. Alasannya, sepakbola adalah tontonan keluarga…dan banyak anak-anak yang melihat. Jadi, kemarahan pemain akan dianggap sebagai pendidikan buruk. Nah, seorang pemain sepakbola saja bisa kena kartu merah, apalagi kalau dia seorang menteri.

Terkini, aksi amarah bu Risma dilakukan kepada seorang pendamping bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Gorontalo. Risma meluapkan kemarahannya lantaran tak terima pihaknya disebut mencoret data penerima bansos dalam data terpadu kesejahteraan sosial. Sambil menodongkan pena ke arah pegawai tersebut, Risma berseru, “tak tembak kamu, ya!”.

Sontak, aksi bu Risma itu pun kemudian viral dan mendapat sorotan serta kritik dari pelbagai pihak. Hingga, kemudian, bu Risma pun meminta maaf pada pihak bersangkutan dan Pemerintah Daerah di Gorontalo.

Lantas, memahami amarah Mensos Tri Rismaharini: Apakah temperamen Risma merefleksikan gaya kepemimpinan, atau hanya bentuk ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Suko Widodo (Pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya; Hendri Satrio (Pengamat Politik/ Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI); dan KH Maman Imanulhaq (Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB/ Komisi VIII bermitra dengan Kementerian Sosial). (her/ yes/ ao)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal Panti Jompo Keliling “Simbah Sebatangkara” di Kabupaten Tegal bersama Edi Sucipto
Artikel selanjutnya35 Hotel di Bali Jadi Tempat Karantina Wisman

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini