Merefleksi Hari Pers Nasional: Bagaimana Mendorong Profesionalisme Insan Pers

Ilustrasi HPN
(Ilustrasi: kayongsolidaritas)

Semarang, Idola 92.6 FM – Setiap profesi selalu menuntut kesungguhan bagi orang yang menjalankannya. Apapun profesinya, maka di balik setiap nama-nama besar yang “mendunia” dan yang “melegenda” di setiap bidang karier, selalu terdiri dari orang-orang yang penuh obsesi.

Obsesi lah yang menghasilkan dedikasi yang tak tergoyahkan (unwavering), usaha mati-matian, dan komitmen yang bertahan—jauh melebihi komitmen pada umumnya orang rata-rata—untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Maka, begitu juga dengan Insan Pers. Mereka yang berprofesi sebagai jurnalis, bertugas melaporkan hal-hal yang perlu atau penting untuk diketahui masyarakat—secara based on fact atau berdasarkan fakta. Dari kerja pers ini lah yang memungkinkan masyarakat teredukasi, tersosialisasi, dan memahami visi serta program kerja yang sedang dijalankan oleh pemerintah.

Sehingga, di satu sisi pers berperan sebagai penyampai informasi, tapi di sisi lain, Pers juga ikut mengawasi jalannya pemerintah. Inilah yang kemudian membuat Pers disebut sebagai pilar keempat demokrasi; setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Akan tetapi, dilemanya, ketika Pers melakukan pengawasan, posisinya berpotensi “mengganggu kepentingan” pihak-pihak yang tak ingin sepak-terjangnya diketahui. Maka di titik inilah, pekerja Pers rawan menerima kekerasan atau bahkan jiwanya ikut terancam.

Lantas, masih merefleksi Hari Pers Nasional, bagaimana kita bisa mendorong profesionalisme Insan Pers, sekaligus memberikan jaminan seperlunya bagi keselamatan mereka, agar hasil kerjanya tetap bisa tersaji kepada masyarakat, tanpa dibelokkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan? Dari berbagai regulasi dan aturan perundang-undangan yang ada—apa yang masih belum cukup untuk menjamin profesionalisme kerja-kerja jurnalis?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Bre Redana (wartawan Senior); Agus Sudibyo (Anggota Dewan Pers); dan Abdul Kharis Almayshari (Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi PKS). (her/ andi odang)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMeski Pandemi, Warga Tionghoa Tetap Berburu Asesori Imlek
Artikel selanjutnyaSatlantas Polrestabes Semarang Siap Amankan Libur Imlek