Ancaman Lost Generation Di Depan Mata, Bagaimana Kolaborasi Mengatasi Stunting?

Ilustrasi Stunting
Ilustrasi/Istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI, satu dari empat anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita stunting. Jumlah tersebut setara dengan total penduduk Jakarta saat ini.

Stunting merupakan kondisi pada anak berusia di bawah lima tahun akibat malnutrisi kronik. Kondisi itu mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.

Stunting disebabkan oleh kurangnya nutrisi sejak bayi dalam kandungan dan masa awal setelah lahir sehingga mengakibatkan masalah kesehatan sepanjang hayat. Dengan ancaman kesehatan dan kecerdasan, maka generasi yang terkena stunting terancam mengalami berbagai permasalahan seperti kesenjangan kesejahteraan, kemiskinan antar generasi yang berkelanjutan.

UNICEF sepakat bahwa stunting dapat disebut juga dengan gizi buruk kronis atau berkepanjangan. Penelitian juga menunjukkan, stunting dapat menurunkan IQ seseorang dan ke depan bisa mengakibatkan lost generation. Hal ni tentu saja tidak kita harapkan–mengingat kita tengah menyongsong era Indonesia Emas 2045 dimana Indonesia digadang-gadang menjadi negara maju.

Cegah Stunting
Photo/Istimewa

Kabar baiknya, stunting masih bisa dicegah, kalau segenap pihak secara hand in hand bergerak bersama. Maka, jika ingin mencapai target penurunan angka stunting di Indonesia dari 24,4% (pada 2021) menjadi 14 persen pada 2024 mendatang sesuai target Presiden Joko Widodo, tak ada pilihan lain, kita harus serempak berusaha bersama.

Mengingat begitu urgen-nya mengatasi stunting, karena kalau gagal kita akan mengalami lost generation, upaya apa yang mesti disengkuyung segenap pihak? Jika dibutuhkan konvergensi atau pemusatan intervensi lintas sektor, siapa yang mesti mengorkestrasi? Dan siapa saja aktor yang mesti dilibatkan?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: dr Hasto Wardoyo (Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Albiner Siagian (Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) dan Epidemiologi Gizi). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal Aplikasi Ujian Tanpa Sinyal dan Kuota Karya Guru SMK Gondang Wonopringgo Pekalongan Maman Sulaeman
Artikel selanjutnyaKapolda Jateng Ingatkan Ormas Tak Boleh Bertindak Anarkis