Bagaimana Mengantisipasi Dampak Kenaikan Harga Agar Indonesia Tidak Menuai Barisan Golongan Miskin Baru?

Harga-Harga Naik
ilustrasi/SINDO

Semarang, Idola 92.6 FM – Kenaikan harga kebutuhan, khususnya pangan dan energi, dalam beberapa waktu belakangan kian menambah beban ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih akibat pandemi Covid-19. Pemerintah dinilai perlu memberi perhatian lebih pada kelompok rentan yakni masyarakat miskin dan rentan miskin.

Diketahui, harga minyak mentah dan sejumlah komoditas pangan melonjak dan mencapai rekor tertinggi baru di tengah ketidakpastian global akibat konflik Rusia dan Ukraina. Transmisinya sampai ke Indonesia. Situasi itu tecermin pada kenaikan harga elpiji, BBM, minyak goreng, kedelai, gandum, daging sapi, dan gula.

Sebelumnya, kita pun mendengar kabar, Indeks harga pangan global menurut data yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), pekan lalu, mencapai level tertinggi sepanjang masa. Harga minyak nabati, sereal, susu, dan daging mendominasi lonjakan. Indeks harga pangan tercatat 140,7 atau lebih tinggi dibandingkan puncak tertinggi sebelumnya pada Februari 2011, yakni 137,6.

Lantas, bagaimana mengantisipasi dampak kenaikan harga agar Indonesia tidak menuai barisan golongan miskin baru?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal. (her/yes/ao)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaKonsumsi BBM Dorong Pembangunan Daerah
Artikel selanjutnyaMengenal Artomo, Pegiat Lingkungan dan Pendiri Bank Sampah di Jaksel