Dorong Kemandirian Energi Nasional Lewat Program Dedieselisasi

Energi baru terbarukan
Penggunaan panel surya sebagai energi baru terbarukan di lokasi terpencil.

Semarang, Idola 92,6 FM – Pengurangan emisi menjadi salah satu target yang akan dicapai, dalam mewujudkan kemandirian energi nasional. Program yang akan disasar adalah dedieselisasi PLN, dan saat ini sudah sesuai arah kebijakan.

Akademisi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Prof Mukhtasor mengatakan data dari Outlook Energi Indonesia memerlihatkan kinerja pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi, sudah berada jauh di bawah Paris Agreement sebesar 29 persen pada 2030. Sementara laporan yang dibuat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2020, menunjukkan proyeksi emisi karbon pada 2030 sektor energi sudah di bawah target. Pernyataan itu dikatakannya saat menjadi pembicara pada seminar ‘Renewable Energy Technology as a driver for Indonesia’s De-Dieselization’ di Hotel Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (23/3).

Prof Mukhtasor menjelaskan, PLN dalam menjalankan program dedieselisasi harus memaksimalkan kekuatan nasional dalam pengembangan teknologi EBT di dalam negeri. PLN sebagai pengembang dan operator utama pembangkit, harus tetap dipertahankan.

“Untuk sektor energi penurunan karbon kita sudah on the track. Transisi energi adalah proses yang kompleks. Proses ini tidak hanya melibatkan sektor energi, tetapi juga menuntut adanya transformasi ekonomi. Pengembangan teknologi baru akan menjadi sumber pendapatan, untuk proses transisi yang berkelanjutan,” kata Prof Mukhtasor.

Sementara Director of Advance Energy System USAID Hanny J. Berchmans menyatakan, proyek ini berhasil memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat di pulau terpencil.

Menurutnya, pilot project skema dedieselisasi secara hybrid menggunakan Automatic Generation Controller & Grid Monitoring System untuk Mini Grid di sistem Sumba Timur. Yakni bekerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID), dan dapat menjadi contoh nyata.

“Dengan menggunakan PLTS dan PLTD secara bersamaan, sistem Sumba Timur mampu menghasilkan listrik yang stabil dan tidak pernah padam selama 24 jam. Bahkan, kestabilan sistem mencapai 100 persen dengan memanfaatkan hanya 25 persen energi surya tanpa penggunaan baterai,” ujar Hanny.

Head of Public Sector and Social Sector Practices in Africa McKinsey & Company Adam Kendall menambahkan, dedieselisasi menjadi kesempatan bagi PLN untuk mengurangi ketergantungan terhadap baterai yang saat ini menjadi komponen termahal dalam pengembangan PLTS sebagai baseload.

“Bagaimana dedieselisasi ini mampu meningkatkan skala ekonomi secara signifikan, dan dapat mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan menjadi satu hal yang harus terus dijaga,” ujar Adam. (Bud)

Artikel sebelumnyaJateng Siap Canangkan Provinsi Bebas Daging Anjing
Artikel selanjutnyaVaksinasi Menjadi Syarat Mudik Lebaran 2022, Bagaimana Memastikan Pelaksanaannya?