Melonjaknya Harga Kedelai, Apa Pokok Pangkal Masalah Sesungguhnya?

Kedelai
Photo/ISTIMEWA

Semarang, Idola 92.6 FM – Tak hanya minyak goreng, dalam beberapa hari terakhir, kelangkaan tahu-tempe menjadi trending topik. Menyikapi mahalnya harga kedelai imbas kelangkaan komoditas kedelai impor, kalangan produsen tahu-tempe di Jabodetabek memilih aksi mogok produksi selama 3 hari–sejak Senin kemarin hingga Rabu esok. Mereka menunggu sikap dan kebijakan Pemerintah atas nasib mereka.

‌Diketahui, berdasarkan Pengawas Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta, harga kedelai saat ini sudah sekitar Rp12.000 per kilogram. Padahal, dalam situasi normal, harganya berkisar antara Rp6.500- Rp7.000/kg.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi membongkar biang kerok harga kedelai naik, menurutnya, karena kebutuhan pakan babi yang sangat besar di China. Sebab, menurutnya, di negara itu ada sekitar lima miliar ekor babi baru yang diberi makan kedelai.

Mengomentari hal itu, Alvin Lee mencuit; “Seakan-akan milyaran babi di China itu mendadak hadir dalam 1 bulan terakhir. Beginilah jadinya kalau Menteri tidak paham pokok permasalahan. Pokok masalahnya aja dia gak paham. Bagaimana mau mengatasinya?”

Senada dengan Alvin Lee, ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengungkapkan bahwa pernyataan Menteri Perdagangan itu tidak mencerminkan baiknya kinerja pemerintah. Menurutnya, menteri perdagangan hanya menyalahkan kondisi negara importir. Mestinya, Pemerintah mawas diri dan evaluasi, kenapa kita masih menjadi importir abadi kedelai.

Diketahui, saat ini 90% kedelai yang digunakan sebagai bahan tahu-tempe, masih impor. Kebutuhan kedelai dalam negeri setiap tahunnya mencapai sekitar 3 juta ton. Sementara, budi daya dan suplai kedelai dalam negeri hanya mampu 500 hingga 750 ton per tahunnya. Sehingga, untuk mencukupi kebutuhan nasional, pemerintah melakukan impor dari beberapa negara.

Jadi, apa pokok pangkal masalah sesungguhnya dari kelangkaan kedelai saat ini? Dan apa jalan tercepat untuk mengatasinya?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, di antaranya: Khudori (Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)) dan Nailul Huda (Ekonom INDEF). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal Inovasi Alat Penggoreng Rendah Kandungan Minyak karya Tim Mahasiswa UNY
Artikel selanjutnyaPelapor Korupsi di Desa Citemu Cirebon, Justru Ditetapkan Sebagai Tersangka, Bagaimana Bisa?