Pemkab Demak Dinilai Abai Terhadap Penelitian Keberadaan Kerajaan Demak

Diskusi Sejarah Kerajaan Demak
Diskusi Sejarah Kerajaan Demak, kembali didiskusikan dalam forum Suluk Senen Pahingan, di pendopo Joglo, Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen Kota Semarang, Minggu (26/11/2023). (Foto Dok. Istimewa)

Semarang, Idola 92.6 FM-Diskusi Sejarah Kerajaan Demak, kembali didiskusikan dalam forum Suluk Senen Pahingan, di pendopo Joglo, Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen Kota Semarang, Minggu (26/11/2023). Hadir sebagai pembicara, Ahmad Kastono Abdullah Hasan (penulis buku Sejarah Kerajaan Demak Bintoro) dan Rendra Agusta (filolog dan Peneliti Damalung Blueprint).

Ahmad Kastono mengatakan, selama perjalanan penelitian ini, ia sudah menganalisa 35 naskah babad dan serat. “Saya memfokuskan 35 naskah ini tentang nama walisongo yang dalam naskah babad disebut wali kramat,” kata Kastono di hadapan peserta diskusi.

Lebih lanjut sosok yang akrab di panggil AKA Hasan ini menyampaikan ada 35 naskah yang dianalisa dan tambahan 2 literatur yang sudah berusia minimal 60 tahun.

Dikatakan AKA Hasan, ada tujuh metodologi yang dipakai AKA Hasan untuk memperkuat penelitiannya tentang sejarah kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo. Selain studi literatur dari babad dan serat, ia juga membaca dan menganalisa ratusan buku yang berbicara tentang Walisongo.

“Dari literatus 192 buku ternyata dewan walisongo berjumlah 3 yakni periode Walisongo berjumlah 1 sampai 5, periode Walisongo berjumlah 8, dan tidak berperiode,” ujarnya.

Selain menggunakan metodologi literatur yang pada umumnya dipakai untuk penelitian, AKA Hasan juga memakai metode Realisme Metafisika. Sebuah metode yang tidak lazim di dunia akademisi.

AKA Hasan melalui penelitiannya mencoba membongkar kembali data seperti Walisongo dan keberadaan Masjid Agung Demak yang harusnya berada di tengah alun-alun. Letak yang sekarang sebenarnya di atas tanah kuburan para wali dan santri Glagah Wangi, digeser gara-gara kepentingan Kolonial membangun jalan raya Daendels waktu itu.

Diskusi Sejarah Kerajaan Demak
Diskusi Sejarah Kerajaan Demak, kembali didiskusikan dalam forum Suluk Senen Pahingan, di pendopo Joglo, Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen Kota Semarang, Minggu (26/11/2023). (Foto Dok. Istimewa)

Sementara, Dosen dan Filologi UNS Solo, Rendra Agusta menjelaskan pentingnya memahami jenis sejarah dalam konteks akademisi. Rendra mengatakan dalam studi sejarah paling tidak ada empat tahapan atau saya contohkan jenis sejarahnya dulu.

“Pertama, sejarah lisan. Sejarah lisan dapat diterima atau sahih ketika hidup se zaman. Kedua, kalau tidak se zaman disebut sebagai sejarah kronik seperti babad. Sedangkan, jenis ketiga yakni sejarah kritis, sejarah yang ini dibenturkan banyak data,” jelasnya.

Ia mempertanyakan kenapa babad itu tidak sahih karena studi tentang walisongo itu ditulis pada abad 17 dan 18 atau 19 itu sedikit sekali.

“Kalau kita memakai hitung-hitungan tahun, walisongo abad ke 16 awal, dengan naskah babad ada selisih 300 tahun. Bagaimana jarak 300 tahun untuk membuktikan sejarah tersebut. Maka, di kampus itu berhenti ketika data itu tidak bunyi,” terangnya.

Namun demikian, Rendra tidak menutup kemungkinan akan penelitian-penelitian selanjutnya. Karena menurutnya saat ini ada alat uji. “Saya tidak memaksa naskah itu harus sahih. Semua yang sifatnya organik bisa diuji, di lapangan misalnya kertas itu bisa diuji.”

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Itqon, KH Ubaidilah Shadaqoh, harusnya pemerintah dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Demak bisa memfasilitasi dan menampung hasil-hasil temuan yang dilakukan para peneliti dan penulis buku Sejarah Demak sebagai penghargaan intelektual.

“Diakui hingga kini belum ada satu pun jejak, yang menjadi titik terang di mana Kerajaan Demak berada,” ujar KH Ubaid.

Sementara sejumlah penelitian sering dilakukan, yang menjelaskan keberadaan Kerajaan Demak, tetapi semua hasil pemikiran tersebut menguap begitu saja.

Suluk Senen Pahingan adalah Ruang terbuka yang menggelar diskusi rutin setiap 35 hari sekali. Kegiatan tersebut digelar Komunitas SantriBajingan,di Joglo Pendopo Pondok Pesantren Al Itqon, Bugen, Tlogosari-Semarang. Forum Suluk Senen Pahingan diasuh langsung Rois Syuriah PW NU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh dan KH Shalahudin Shodaqoh. Diskusi Suluk Senen Pahingan saat ini sudah digelar sebanyak 25 kali, dengan sejumlah tema kekinian. (her/tim)

Artikel sebelumnyaMenyikapi Kebijakan OJK yang Menurunkan Bunga Pinjaman Online
Artikel selanjutnyaAmnesty International: Kampanye Pemilu Dimulai, Jangan Lupakan Penegakan HAM