Ini Cara BI Jateng Atasi Inflasi Lewat Jurus 4K

Kabiro Perekonomian Setda Jateng July Emmylia (kanan)
Kabiro Perekonomian Setda Jateng July Emmylia (kanan) didampingi Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Ndari Surjaningsih (dua dari kiri) saat berdialog dengan petani cabai yang ada di Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Magelang, Idola 92,6 FM-Dalam upaya pengendalian inflasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah memiliki jurus jitu yang bisa diterapkan guna mengatasi kenaikan harga komoditas pangan.

Guna memitigasi inflasi harga komoditas, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jateng bersinergi dengan Kementerian Pertanian dan petani cabai di Kabupaten Magelang.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Ndari Surjaningsih mengatakan stabilitas pasokan dan harga komoditas cabai perlu menjadi perhatian bersama, sebab selain berdampak pada kenaikan inflasi juga berpengaruh terhadap penurunan daya beli masyarakat. Hal itu dikatakan di sela kegiatan Gerakan Petani Peduli Inflasi di Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Rabu (5/6).

Ndari menjelaskan, dalam menghadapi dan mengatasi inflasi yang disebabkan karena komoditas cabai dibutuhkan sinergi banyak pihak.

Tidak hanya anggota TPID saja, tapi juga melibatkan para petani cabai yang ada di Kabupaten Magelang.

Menurutnya, dalam upaya menjaga kestabilan harga tidak bisa dilakukan Bank Indonesia saja tapi juga ada sinergi dari pemerintah daerah maupun gabungan kelompok petani (gapoktan) guna meningkatkan dari sisi pasokan.

Sehingga, laju inflasi bisa terjaga karena pasokan cabai terjaga sesuai kebutuhan masyarakat dengan harga terkendali.

“Kita mengacu pada kebijakan yang bersifat 4K. Adanya keterjangkauan harga, adanya ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif. Ini semua dilaksanakan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan yang meliputi tujuh hal,” kata Ndari.

Lebih lanjut Ndari menyebut, ketujuh hal itu adalah kerja sama antar daerah dan pelaksanaan operasi pasar atau Gerakan Pasar Murah serta pemberian subsidi ongkos angkut dan juga fasilitas distribusi pangan.

Kemudian juga ada gerakan tanam, replikasi model bisnis, bantuan alat pertanian dan digitalisasi proses bisnis data dan informasi serta koordinasi dan komunikasi.

Ke depan, Bank Indonesia juga akan terus bersinergi dengan berbagai pihak. Baik dalam kerangka TPID, maupun dengan stakeholder di sektor riil dan juga dengan para petani,” pungkasnya. (Bud)