Petani Cabai Magelang Siap Bantu Jaga Inflasi

Deputi Kepala KPw BI Jateng Ndari Surjaningsih
Deputi Kepala KPw BI Jateng Ndari Surjaningsih memberikan bantuan kepada salah satu Gapoktan di Kabupaten Magelang.

Magelang, Idola 92,6 FM-Komoditas cabai kerap menjadi penyumbang inflasi di Jawa Tengah, terutama ketika pasokan dari petani berkurang akibat gagal panen.

Baik itu cabai rawit merah atau cabai rawit keriting, beberapa kali menyumbang inflasi di Jateng dan masuk kategori komoditas pangan yang menjadi perhatian pemerintah.

Oleh karena itu, Asosiasi Champion Cabai Indonesia siap membantu pemerintah dan Bank Indonesia dalam upaya pengendalian harga komoditas pangan khususnya cabai.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmodjo mengatakan saat ini, produktivitas panen cabai yang ada di Kabupaten Magelang sebanyak 50 ton per bulannya. Pernyataan itu dikatakan saat ditemui di sela kegiatan Gerakan Petani Peduli Inflasi di Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Rabu (5/6).

Tunov menjelaskan, ketika musim panen cabai tiba maka para petani mampu panen hingga 100 ton per bulan.

Bahkan, produktivitas panen cabai yang melimpah itu mampu memenuhi kebutuhan cabai tidak hanya di Jawa Tengah saja tapi juga sampai luar provinsi.

Menurutnya, untuk harga cabai merah maupun merah keriting saat ini di kisaran Rp20 ribu per kilogram.

Namun, ketika panen berkurang harga cabai bisa lebih tinggi hingga di tangan konsumen.

“Hanya memang di tingkat konsumen yang masih sangat tinggi fluktuasinya, itu disebabkan oleh tata kelola pasar yang belum bisa diatur secara baik. Distribusi yang panjang ada pedagang, tengkulak dan bandar itu masih ambil sangat peran vital di penentuan harga tingkat konsumen,” kata Tunov.

Tunov menyebut, melalui kegiatan Gerakan Petani Inflasi yang diadakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng dianggap sebagai momentum yang baik.

Sebab, hal itu juga diharapkan bisa mengendalikan komoditas cabai di Kabupaten Magelang agar tidak menjadi penyumbang laju inflasi di Jateng.

“Kami para petani cabai khususnya, sangat sadar akan inflasi. Pentingnya stabilitas harga dan pasokan. Kami justru selama ini ingin menjadi aktor utama dalam ketahanan pangan dan pengendalian inflasi nasional. Kamilah yang memiliki barang, produksi, punya jumlah pasokan, makanya kami ingin menjadi aktor,” jelasnya.

Sementara Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Ndari Surjaningsih menyatakan, berdasarkan hasil pencatatan yang dilakukan BPS Jateng pada Mei 2024 diketahui ada beberapa komoditas penyumbang inflasi.

Misalnya cabai rawit, yang mencatatkan kenaikan harga sebesar 0,04 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Cabai merah merupakan salah satu komoditas yang menduduki posisi penting dalam konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia. Dari situ ternyata rata-rata konsumsi di Indonesia itu mencapai sekitar 0,15 kilogram per kapita per orang per bulan. Jadi, bisa dibayangkan berapa banyak yang dibutuhkan untuk suplai cabai,” ucap Ndari.

Lebih lanjut Ndari menjelaskan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jateng terus berkoordinasi dan berkomunikasi dalam upaya mengatasi gejolak harga yang disebabkan komoditas cabai. (Bud)