Banjir masih menggenang di salah satu desa di Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM-Keterbatasan anggaran menjadi tantangan serius dalam upaya penanganan bencana di Jawa Tengah, seiring tren kejadian bencana yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kalakhar BPBD Jateng Bergas Penanggungan mengatakan kenaikan anggaran penanggulangan bencana, belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan. Hal itu dikatakan saat ditemui di kantor gubernur, kemarin.

Menurut Bergas, anggaran BPBD Jateng dalam beberapa tahun terakhir relatif stagnan.

Pada 2024 tercatat sekira Rp19 miliar, meningkat menjadi Rp20 miliar pada 2025 dan 2026.

Bergas menjelaskan, kenaikan tersebut dinilai sangat minim jika dibandingkan dengan laju inflasi maupun eskalasi jumlah bencana.

“Kalau kita kena inflasi saja 10 persen, itu sudah sangat berpengaruh. Sementara anggaran kita naiknya sedikit sekali. Padahal anggaran itu sudah termasuk untuk seluruh operasional,” kata Bergas.

Lebih lanjut Bergas menjelaskan, keterbatasan anggaran tersebut berdampak langsung pada kapasitas penanganan bencana.

Namun demikian, BPBD Jateng tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai hambatan untuk berhenti bekerja.

“Yang penting kita tetap menangani. Dengan anggaran segitu, tidak mungkin kita bekerja sendiri. Karena itu kami melakukan kolaborasi,” jelasnya.

Bergas menyebut, selain mengandalkan APBD, BPBD Jateng juga bersinergi dengan berbagai lembaga dalam penanganan bencana.

“Kalau tidak berkolaborasi, kita tidak akan bisa melaksanakan sebanyak itu. Kita tidak boleh stuck dengan keterbatasan,” pungkasnya. (Bud)