Semarang, Idola 92,6 FM-Kinerja APBN hingga akhir November 2025, terbukti memainkan peran penting dalam menopang perekonomian Jawa Tengah, terutama melalui penguatan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jateng Bayu Andy Prasetyo mengatakan kinerja ekonomi di provinsi ini, menunjukkan tren yang menguat. Hal itu disampaikan melalui siaran pers secara daring, belum lama ini.
Menurut Bayu, dari sisi stabilitas harga, inflasi tahunan (year on year) Jateng pada November 2025 tercatat sebesar 2,79 persen atau sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,72 persen.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Semarang sebesar 2,92 persen, sementara yang terendah tercatat di Kabupaten Wonogiri sebesar 2,47 persen.
“Pada triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,37 persen, meningkat dibandingkan triwulan II sebesar 5,28 persen, dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang justru melambat,” kata Bayu.
Bayu menjelaskan, dari sisi fiskal, kinerja APBN di Jateng hingga 30 November 2025 mencatatkan pendapatan negara sebesar Rp102,09 triliun atau 78,03 persen dari target, tumbuh 0,80 persen secara tahunan.
Penerimaan tersebut ditopang pajak, bea dan cukai serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp7,35 triliun atau melampaui target sebesar 123,79 persen.
Sedang di sisi belanja, realisasi mencapai Rp94,93 triliun atau 88,46 persen dari pagu, dengan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp65,72 triliun yang menjadi penopang utama fiskal daerah.
“Sinergi APBN dan APBD menjadi kunci menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Kolaborasi fiskal pusat dan daerah terbukti efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi, melindungi sektor-sektor rentan, serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di Jawa Tengah,” pungkasnya. (Bud)














