Kudus, Idola 92.6 FM-Bersama warga desa di Lereng Muria Kudus Jawa Tengah, sosok satu ini menanam dan melestarikan Parijoto. Tanaman asli Muria yang memiliki sejarah panjang dengan kehidupan keseharian warga Lereng Muria.
Ia berhasil mengajak warga lain di Lereng Muria untuk ikut memagari hutan lindung yang masih tersisa dengan tanaman parijoto. Hasilnya, hampir 4 hektar lahan sudah berhasil ditanami parijoto. Melalui marketplace, olahan parijoto sudah tembus ke pelosok negeri.
Sosok peduli lingkungan itu adalah Triyanto (41), pelestari parijoto dan Pembina Yayasan Peka Muria Kudus. Triyanto tinggal di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Atas dedikasi selama ini, sejumlah penghargaan telah diraih lelaki Kudus, Juli 1984 ini. Yakni, Juara 1 Krenova Kabupaten Kudus 2018, 100 Besar Food Startup Indonesia Bekraf 2018, 100 Besar The Big Start Indonesia Blibli 2018, Produk Unggulan BI Jateng 2020, dan Finalis Apresiasi Kreasi AKI Kemenparekraf 2023.

Kepada radio Idola, ia menuturkan parijoto bisa panen setiap hari, untuk kebutuhan produk bisa produksi 1 kwintal/minggu.
”Awalnya petani hanya 9-10 petani, untuk petani besar. Sekarang ada 16 petani besar. Belum petani yang punya beberapa meter. Ada yang di kabupaten Jepara, Pati, sekarang total petaninya 35-an,”tutur Triyanto kepada radio Idola Semarang, pagi (23/01) tadi.

Parijoto mudah dibudidayakan di bawah naungan pohon hutan. Secara ekonomi, tananam pandemik ini, juga menguntungkan pemiliknya. Ragam olahan parijoto bisa didapatkan di pasaran seperti sirup, permen, kombucha hingga teh parjoto. Beragam produk turunan parijoto dijual secara daring sejak 2017 lalu, dengan merek dagang Alammu.
Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Triyanto, pelestari parijoto dan Pembina Yayasan Peka Muria Kudus.(yes/her)
Simak podcast wawancaranya:















