Teguh Budi Wiyono, Ketua Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria) Kudus.(Foto: Teguh)

Kudus, Idola 92.6 FM-Sosok satu ini dikenal sebagai pejuang konservasi Muria. Keberadaan makam Sunan Muria juga berkontribusi pada konservasi hutan. Dari 2.000 hektar hutan Muria yang tersisa di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara Jawa Tengah, hampir sepenuhnya berlokasi di Colo karena lokasinya dekat dengan makam Sunan Muria.

Sosok itu adalah Teguh Budi Wiyono (51), Ketua Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria) Kudus. Teguh lahir di Muria, Kudus, 1974.
Ia menyadari, betapa pentingnya menjaga lingkungan. Flora dan Fauna. Karena ia hidup dan mungkin mati juga di Muria. Itulah yang mengantarkan Teguh ikut merawat hutan sejak 2012 lalu agar sumber mata air tetap terjaga dan warga tak kekurangan air.

“Karena kan kekurangan air. Air yang dulu kami nikmati pada 1990an. Setelah adanya reformasi, ada perambahan, alih fungsi lahan, ada penunurunan air. Rata-rata warga di lereng Muria, kekurangan air. Kalau di atasnya airnya habis, maka yang di kota-kota seperti Kudus, Jepara, Pati akan habis,”tutur Teguh kepada radio Idola Semarang, pagi (02/02) tadi.

Salah satu kegiatan tim konservasi di hutan Muria Kudus.(Foto: Teguh)

Ia tak sendirian. Untuk menjaga agar hutan tetap lestari, mereka menanam pohon di Muria. Termasuk membentuk kelompok Air untuk menyalurkan air dari mata air menuju rumah warga. Teguh kemudian bergabung dan menjadi bendahara di Komunitas Perkumpulan Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Muria pada 2011.

Lalu bagaimana perjalanan Teguh dalam berkontribusi merawat Muria?

Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Teguh Budi Wiyono, Ketua Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria) Kudus. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya: