Permainan Tradisonal Terancam, Pemerintah Perlu Bergerak

photo: kidnesia

IdolaFM, Semarang – Permainan tradisional anak-anak kian hari kian terancam. Anak-anak perlahan-lahan melupakan permainan tradisional, dan hanya segelintir yang mengenal permainan petak umpet, gobak sodor, egrang, atau lompat tali. Mereka lebih memilih bermain di dalam ruangan dengan mesin console, game online, dan teknologi lainnya.

Niken Widayanti, salah satu orang tua di Semarang, membandingkan permainan sekarang dengan masa kanak-kanaknya. “Sekarang eranya teknologi, zaman kecil saya era tradisional,” kata Niken di sela-sela menghadiri Pekan Budaya Indonesia di Semarang, 5 Agustus 2015. Menurutnya, permainannya dahulu lebih banyak mengandalkan potensi alam. Dia juga berpendapat kalau permainan tradisional mengajarkan kreativitas, kebersamaan, dan olah fisik.

Karena sedikitnya lahan bermain untuk anak-anak di Kota Semarang, Niken menyuarakan tuntutan kepada Pemerintah Kota Semarang. Ia berharap, Pemkot menyediakan lahan khusus bagi anak-anak agar bisa melakukan permainan tradisional. Selain itu, dia juga mengusulkan agar dinas pendidikan menyisipkan kurikulum khusus yang mengajak anak-anak untuk mengenal permainan tradisional.

Permainan Anak Ular Naga. (photo: blogspot)
Permainan Anak Ular Naga. (photo: blogspot)

Kacung Maridjan selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementeri Pendidikan dan Kebudayaan, menghimbau agar pemerintah daerah dapat mengidentifikasi jenis-jenis permainan daerah. Selain itu, Dia menyarankan pemerintah daerah untuk menyediakan lahan bermain untuk permainan tradisional. “Kami menghimbau masyarakat Indonesia, lebih mencintai kebudayaan nasional khusunya permainan tradisional.”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang membuka acara ini menyatakan/ kegiatan yang baru pertama kali dilakukan ini bertujuan agar banyak generasi muda yang memahami budaya Indonesia dan berkenan melestarikannya. “Anak-anak muda bisa kombinasikan antara tradisi yang melekat dengan ekspresi baru yang di kalangan anak muda dianggap keren. Tadi kita lihat tarian Topeng Ireng misalnya. Pekan Budaya Indonesia ini pertama kali, di Semarang. Kita ada 11 tempat, harapannya lebih banyak anak-anak yang melestarikan dan mengembangkan kebudayaan,” kata Anies.

Dalam pembukaan acara tersebut ditampilkan defile kebudayaan mulai dari mainan anak-anak, tradisi, kebudayaan, dan pakaian adat yang diwakili beberapa daerah. Warga yang hadir juga bisa langsung mendatangi berbagai stan yang mengelilingi Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang. (Budi Aris/Yudhi/HeriCS)

Artikel sebelumnyaKadinperindag Jateng: Tak Ada Istilah “Dwelling Time” Di Jateng
Artikel selanjutnyaFatma Lintang Sari Menangi Lomba Nyanyi Jingle Mungil Radio Idola Semarang