Sisi Lain Kendeng Utara, Surga Bagi Capung, Kupu-kupu, Dan Burung

Orthetrum Testaceum, salah satu jenis Capung di Kendeng Utara. (photo: Heri CS)
Orthetrum Testaceum, salah satu jenis Capung di Kendeng Utara. (photo: Heri CS)

Bukan Ekonomi Semata, Namun Kehidupan yang Lestari

Sementara itu, aktivis dari Yayasan Sheep Indonesia Heri Sasmita Wibowo menambahkan, apabila penyelamatan lingkungan kemudian kalah dengan pengusaha atau industri yang terjadi adalah kerusakan ekosistem lingkungan. Ia menjelaskan, salah satunya yakni simbiosis mutualisme antara petani dengan burung pipit yang memakan ulat sebagai hama tanaman.

Namun yang sekarang terjadi, burung pipit memakan bulir padi. Sehingga, hal ini menjadi gangguan bagi petani. Artinya, gangguan terhadap kawasan Pegunungan Kendeng Utara berdampak luas terhadap perekonomian sekitar.

Oleh karenanya, menurut Wibowo, apabila kondisi ini dikaitkan dengan kedaulatan pangan yang dicanangkan pemerintah maka akan menganggu target kecukupan pangan terutama di Jawa Tengah.

Senada dengan Wibowo, menurut dosen Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Diponegoro Semarang Karyadi Baskoro, temuan beragam jenis capung, kupu-kupu dan burung yang masih eksis di Pegunungan Karst Kendeng Utara, merupakan bukti bahwa kawasan tersebut masih stabil. “Dengan demikian tidak seharusnya dipandang sebagai ladang kapital saja.”

Ia mengungkapkan, tak hanya burung lokal di kawasan Kendeng juga menjadi tempat singgah burung migrant. Di antara mereka ada yang kemudian menetap dan ada yang singgah sementara. Tak bisa dipungkiri Indonesia menjadi jalur penting migrasi burung dari burung-burung terutama dari kawasan Asia Timur. “Sejak tahun 2006 hingga sekarang Kendeng Utara ini juga menjadi jalur migrasi burung-burung.”

Karyadi menuturkan, keberadaan beberapa hewan predator di Kendeng Utara menandakan kawasan itu stabil atau ekosistemnya sehat. Beberapa hewan itu antara lain, burung Elang-alap Nipon (Accipiter gularis), Elang-alap Cina (Accipiter soloensis), Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), Elangular Bido (Spilornis cheela), dan Alap-alap Sapi (Falco moluccesis). “Sebab, jika sebuah kawasan tak lagi dijumpai kelompok predator maka kawasan tersebut justru tidak sehat. Keberadaan Elang itu salah satu indikator sebuah kawasan ekosistemnya sehat.”

Menurut Karyadi, buku Sisi Lain Kendeng Utara, memberikan sekeping bukti yang melengkapi kepingan-kepingan fakta lain yang sudah terungkap. Bahwa, pegunungan kapur atau karst tidak seharusnya dipandang sebagai ladang kapital semata. Beragamnya flora fauna yang selama ini seiring diabaikan menunjukkan adanya kekayaan tak ternilai. Jika flora faunanya sangat kaya, artinya kawasan ini sangat bermakna bagi manusia. “Sekali lagi, bukan makna uang semata, namun kehidupan sejati yang lestari,” pesannya.

Menurut Karyadi, temuan keberagaman hayati itu menjadi pertimbangan penting bagi instansi terkait dalam mengambil kebijakan menyangkut Pegunungan Karst Kendeng. Melihat sisi lain kendeng utara, seumpama oase dan surga bagi fauna capung, kupu-kupu, dan burung. Ada keanekaragaman hayati yang bak harta karun bagi semesta. (Budi Aris / Heri CS)

1
2
Artikel sebelumnyaOptimalisasi PT Jamkrida, Jateng Kejar Rekomendasi Kementerian
Artikel selanjutnyaUMKM Didorong Manfaatkan Layanan Sosial Media
Editor In Chief Radio Idola Semarang.