Transportasi Massal, Persoalan Besar Semarang

BRT Melintas Tugu Muda (photo: beritasemarang)

IdolaFM, Semarang – Layanan transportasi massal ke depan diprediksi akan menjadi persoalan besar di Kota Semarang. Ini juga akan menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah bagi wali kota terpilih dalam Pilwakot Semarang 2015.

Semakin meningkatnya pengguna kendaraan pribadi dibandingkan transportasi masal, mengakibatkan problem kemacetan. Pengamat transportasi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Alfa Narendra melihat, pemerintah harus memikirkan dengan serius serta melakukan gebrakan agar transportasi massal di Kota Semarang berkembang. Ia mencontohkan, bus Trans Semarang sebaiknya merambah wilayah pinggiran kota Semarang. Juga mencakup jalur kedung sepur yang mencakup Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Ungaran (Kabupaten Semarang), Kota Salatiga, Kota Semarang, dan Purwodadi (Kabupaten Grobogan).

Kandidat doktor bidang transportasi menjelaskan, ada persoalan lain yang juga perlu diperhatikan yakni kondisi angkutan umum. Menurutnya, banyaknya angkutan umum dalam kondisi tidak layak. Hal ini disebabkan biaya operasional yang tinggi. “Perlu ada upaya pemerintah untuk memberi kemudahan kepada angkutan umum seperti pembebasan pajak kendaraan, subsidi BBM khusus angkot, atau bebas biaya KIR,” saran Alfa kepada Idola FM, akhir Agustus 2015 lalu.

Sementara itu, Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Djoko Setijowarno, berpendapat, wali kota Semarang terpilih nanti perlu membuat program khusus untuk membangun sistem transportasi yang baik. “Sekarang public transport itu harus bagus. Selain harus bagus harus menjangkau kawasan permukiman,” ujarnya.

Dia melihat banyak kawasan permukiman di Semarang yang jauh dari jalan utama. Untuk itu, perlu gebrakan yang memihak kepada masyarakat, seperti penyediaan transportasi massal masuk ke kawasan permukiman.

Djoko menambahkan, perlu juga dipikirkan penyediaan dan pembenahan jalur pejalan kaki dan sepeda. Sehingga, hak menggunakan transportasi massal, maupun hak pesepeda, dan pejalan kaki dapat terakomodir. Untuk itu, perlu adanya perubahan pola pikir wali kota terpilih.

Menurutnya, siapapun yang terpilih nanti harus mengutamakan transportasi sebagai bagian pembangunan Kota Semarang. Di juga menunjukan perubahan yang terjadi di PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai contoh yang patut ditiru. “Gak usah tiru luar negeri sebenarnya. Tiru bangsanya sendiri seperti perubahan di PT KAI. Ternyata bisa,” tandasnya. (Arif Nugroho/Yudhi Arunggani/Heri CS)

Artikel sebelumnyaDollar Belum Pengaruhi Bisnis Industri Kreatif
Artikel selanjutnyaTekan Kematian Ibu Melahirkan Dan Bayi Perlu Sinergi Semua Pihak