APTI Minta Pemerintah Kurangi Impor Tembakau Tiongkok

Kendal, Idola 92.6 FM – Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) cabang Kendal, Mudakir mengatakan, kebijakan atas wacana kenaikan harga rokok mencapai Rp 50 ribu diharapkan efek positifnya bisa juga dinikmati oleh petani tembakau.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah, supaya membatasi kuota impor tembakau dari Tiongkok. Sebab bila tidak, petani akan merugi dan yang diuntungkan ialah pihak produsen dan Tiongkok.

“Impor tembakau dari Tiongkok sebesar 48 persen dari produsen tembakau Indonesia. Kalau hal ini tidak dibatasi, harga tembakau Indonesia akan jatuh. Karena stok melimpah di tingkat petani tidak diserap sehingga otomatis petani merugi,” kata Mundakir, Kamis (1/9).

Dia menambahkan, sebetulnya selama ini pabrik rokok membeli tembaku dari Tiongkok dengan harga yang sama. Akan tetapi bedanya, tembakau dari Tiongkok sudah siap pakai dan tidak perlu ditimbun lagi di gudang yang membutuhkan waktu minimal dua tahun lamanya.

“Mutu tembakau Tiongkok, sudah memenuhi standar dunia. Sementara mutu tembakau Indonesia belum memenuhi standar. Meski demikian, tembakau Indonesia tetap diperlukan, karena sebagai campuran,” ujarnya.

Rasa tembakau dari Tiongkok jika dikonsumsi sendiri, akunya, kurang nikmat bila tidak dicampur dengan tembakau Indonesia. Makanya dengan alasan apapun tembaku Indonesia tetap laku.

“Tapi porsinya tak banyak dibanding dengan tembakau dari Tiongkok,” tambahnya.

Mudakir berharap, kepada petani Indonesia untuk tetap menanam tembakau, meski keuntungan yang diperoleh belum bisa memberikan keinginan yang diharapkan.

Sementara itu, salah satu petani tembakau adal Ds Pegandon, Kendal, Fauzan, mengaku was-was dengan rencana pemerintah untuk menaikkan harga rokok.

Pasalnya, bisa jadi malah produsen tidak mau membeli tembakau milik petani, karena pembatasan produksi. Selama ini, kata dia, petani tembakau di Kendal, jarang meraup untung besar karena harga sering dipermaiankan tengkulak. Belum lagi bila waktu panen tembakau molor.

“Kalau tidak sesuai kehendak tengkulak yang sebelumnya memesan terlebih dahulu, harga dipastikan turun,” aku nya.

Untuk itu, Fauzan lebih memilih pasrah, karena hingga sekarang pihak produsen atau parbik rokok yang selama ini membeli tembakau belum memberikan kabar yang jelas terkait adanya wacana kenaikan harga rokok. (Sp/Diaz A)

Artikel sebelumnyaKang Mus Sambut Kedatangan Owi-Butet
Artikel selanjutnyaDPR: Perpustakaan Di Indonesia Lesu