Bagaimana Upaya Mencegah Manipulasi Agama, Ras Dan Tradisi Untuk Pemenuhan Kepentingan Politik?

Semarang, Idola 92.6 FM – Pemuda di era milenial saat ini berada pada pusara gempuran abad global dimana semua saling terkoneksi. Semua informasi apapun seolah berada dalam genggaman yang kian tak terkendali, salah satunya mengenai ideology radikalisme yang bermuara pada memaksakan kehendak. Untuk itu, pelibatan pemuda di dalam pembangunan bangsa merupakan kunci melawan perkembangan ideologi pro kekerasan di masyarakat. Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pemerataan akses pendidikan, tingkat kepemilikan modal hingga ekspresi sosial dan spiritual.

Hal itu mengemuka dalam Forum Perdamaian Dunia atau WPF ke-6 di Jakarta baru-baru ini. Ketua Dialog Nasional Umat Kristiani, Muslim, dan Yahudi di Australia yang hadir dalam acara ini mengemukakan, selama ini, pemuda sering kali disisihkan sehingga mereka mengalami kebingungan ideologis. Para pemuda mencari kelompok tempat mereka bisa bergabung dan merasa menjadi bagian dari suatu gerakan.

Senada, dosen Sejarah dan Politik Asia Tenggara Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Sudarnoto Abdul Hakim mengemukakan, dalam konflik-konflik yang terjadi sepanjang sejarah Indonesia dan global, akar permasalahan selalu pada kesenjangan di berbagai sektor kehidupan. Untuk itu, diperlukan reformasi system pendidikan agar menanamkan karakter yang baik sekaligus memberi keterampilan hidup. Di dalam pendidikan formal, juga hendaknya ditanamkan pemikiran agar tidak memanipulasi agama, ras, serta tradisi adat istiadat yang berbeda demi pemenuhan kepentingan politik, ekonomi, ataupun posisi social.

Lantas, bagaimana upaya mencegah manipulasi agama, ras dan tradisi untuk kepentingan politik? Apa pula upaya yang bisa dilakukan dunia pendidikan kita untuk mengajak pemuda sebagai juru damai untuk meredam kekerasan di lingkungannya? Bagaimana pula mencegah agar pemuda tidak mudah ikut arus global?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola 92.6 FM berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Prof Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA (Dosen Sejarah dan Politik Asia Tenggara Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Dr Agus Maladi Irianto, MA (Antropolog dan dosen FIB Undip). (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaKopi Temanggung Akan Ditawarkan Ke PM Belanda
Artikel selanjutnyaApindo Jateng: Pengusaha Besar Tak Boleh Pakai UMP