Benarkah Pendidikan Kita Belum Tepat Guna?

Budayawan Jakob Sumardjo. (photo: detik)

Semarang, 92.6 FM – Bangun di pagi hari lalu membuka surat kabar. Kemudian pulang dari bekerja pada malam hari menonton televisi atau mendengarkan radio, seolah kita terjebak dalam repetisi tiada akhir. Hanya seperti rantai kausalitas tanpa ujung. Semua problem dalam berita tersebut berputar dalam satu muara yang sama. Kemunculan peristiwa hanyalah soal siapa yang akan terungkap terlebih dahulu semacam arisan bergilir.

Dimulai dengan terungkapnya sindikat vaksin setelah 13 tahun, mafia kasus di dunia peradilan. Pun kasus kekerasan pada anak hingga terkuaknya berbagai macam barang palsu mulai dari uang tunai hingga ijazah palsu. Hal ini menyebabkan gugatan pada tanggung jawab pemerintah. Sebenarnya di manakah peran dan keberpihakan negara selama ini.

Setalah kurun waktu 13 tahun perihal vaksin palsu baru terkuak. Lamanya praktik pemalsuan hinga akhirnya mengakar ini menunjukan titik lemah di bagian pengawasan. Lantas, apa sebenarnya akar dari masalah-masalah ini? Di mana problem bangsa yang tidak berkesudahan ini? Benarkah pendidikan kita sejauh ini sudah berhasil memanusiakan manusia sebagaimana yang Ki Hajar Dewantara kemukakan? Jika iya, manusia macam apa yang diinginkan bangsa ini? Pertanyaan lebih mendasar lagi, benarkah sistem pendidikan kita belum tepat guna?

Budayawan Jakob Sumardjo menyatakan, pendidikan kita masih mengutamakan pengetahuan intelektual. Padahal, manusia tidak hanya punya pikiran tetapi hati nurani, perasaan dan perbuatan. Ketiganya semestinya diperhatikan dan seimbang dalam pendidikan kita. Jakob menyebut, selama ini pengalaman kita sendiri tidak pernah dirumuskan dalam ilmu pengetahuan yang diberikan kepada generasi mendatang. Dia mencontohkan, pada tahun 1940-an ketika era Sekolah Rakyat (SR).

“Tahun 40-an saya sekolah rakyat waktu itu. Kalau diajar geografi kita itu pertama kali disuruh gambar kelas. Tempat duduk saya di mana. Teman saya di mana. Ada berapa orang di situ. Setelah itu dikembangkan harus membuat peta sekolah. Setelah peta sekolah, kemudian wilayah sekolah. Ada sungainya, jalannya. Jadi, kita belajar dari diri kita sendiri. Dari pengalaman kita sendiri,” tutur Jakob yang juga esais ini.

Terjebak Orientasi Pengetahuan Konsumtif

Menurut Jakob, salah satu penyakit yang menjakiti bangsa kita saat ini dipicu karena pendidikan disamakan pada pengetahuan konsumtif. Sehingga, kita kurang mendidik dalam tingkah laku etik yang bermoral serta pendidikan estetika.

“Pendidikan kesenian dan sebagainya hanya tambahan saja sehingga bersifat ekstrakurikuler di anak-anak. Dulu pada Taman Siswa kalau gak salah, gamelan merupakan bagian penting biar seimbang dengan pendidikan ilmu pengetahuan. Mungkin ini pembentukan manusia seutuhnya adalah pembangunan pikiran, hati nurani, dan tingkah lakunya,” ujarnya.

Sementara itu, Saifur Rohman, ahli filsafat dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyatakan, pada masa lalu kehidupan digerakkan oleh ideologi atau keyakinan tertentu. Tetapi sekarang digerakkan oleh persepsi tertentu. Menurut Saifur, biang kerok dari segala teknis etika pendidikan yang melenceng jauh yakni Kurikulum 2013. Ini yang paling penting untuk dikritisi bersama.

“Pembangunan karakter bangsa sampai saat ini masih jauh panggang dari api sebab kurikulum kita saat ini mengalami disorientasi pada nilai yang jauh karakter kebangsaan,” kata Saifur.

Tukiman Taruno, Pemerhati Pendidikan dari Unika Soegijapranata Semarang menilai, problem utama pendidikan adalah bagaimana pendidikan nilai ditanamkan. “Sejauh ini, dunia pendidikan kita semakin menjauhkan diri dari pendidikan nilai.”

Dia menambahkan, pendidikan saat ini hanya berorientasi mengejar nilai akademik. Tidak lagi ada hubungan langsung antara tingginya pencapaian akademik pada pembentukan moral dan konsep diri.

Suka atau tidak suka kita harus mengakui, pendidikan kita hingga saat ini belum berhasil menyelenggarakan pendidikan yang tepat guna. Kurikulum yang digunakan masih menitikberatkan kepada wilayah akademis, sedangkan pendidikan itu tidak hanya soal akademis, sisi humanisme juga harus dikembangkan karena keduanya merupakan suatu sinergi yang tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya.

Ke depan pendidikan nilai harus terus diwujudkan dalam kurikulum pendidikan nasional. Selain itu yang tak kalah penting yaitu, konsep diri juga harus dimasukkan dalam pemikiran. Sebab pendidikan bukan hanya soal mentransfer ilmu pengetahuan tetapi yang jauh lebih penting adalah mampu membuat peserta didik memahami konsep diri, identitas dan peran uniknya dalam masyarakat. (Gotcha Randy/ Heri CS)

Artikel sebelumnyaKapolda Jateng Perintahkan Jajarannya Terbuka Soal LHKPN
Artikel selanjutnyaTerkait Dana Repatriasi Tax Amnesty, OJK Jateng Tunggu Regulasi Pusat