Menakar Kompleksitas Masalah Gizi Di Tengah Menyongsong Bonus Demografi

(Ilustrasi: Tabloid Nova)

Semarang, Idola 92.6 FM – Di tengah tantangan bangsa menyiapkan generasi unggul dan terampil dalam menyongsong bonus demografi pada tahun 2020-2030, Indonesia kini juga menghadapi kompleksitas terkait masalah gizi. Padahal gizi menjadi daya ungkit utama pembangunan dan daya saing bangsa. Selain itu, kunci utama mendapat sumber daya manusia bermutu guna meraih manfaat bonus demografi adalah menjaga kesehatan bayi pada usia 1.000 hari pertama kehidupan. Artinya, kecukupan gizi pada anak juga turut berkontribusi pada tinggi rendahnya mutus sumber daya manusia di masa yang akan datang.

Faktanya, selain tingginya jumlah anak usia di bawah lima tahun bertubuh pendek, kurus dan kegemukan, banyak pula perempuan hamil dan usia subur juga mengalami anemia dan kekurangan energi kronis. Merujuk pada data Pemantauan Status Gizi tahun 2015, prevalensi balita pendek (stunting) 29 persen, balita kurus (wasting) 12,1 persen, dan balita kegemukan 5,6 persen. Sementara, Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 mencatat, prevalensi ibu hamil dengan anemia 37,1 persen, ada 22,4 persen perempuan usia subur kena anemia, ada 22, 4 persen ibu hamil kekurangan energy kronis, dan 18,8 persen orang dewasa kegemukan.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan, masalah gizi amat kompleks. Banyak hal di luar soal kesehatan terkait erat masalah gizi, mulai dari ketersediaan pangan, akses terhadap pangan, cara mengolah makanan, ketersediaan air bersih, hingga preferensi memilih makanan. Anung mengungkapkan, sebagian besar populasi bermasalah gizi berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah. Namun, tingkat pendidikan tinggi bukan jaminan warga memilih makanan sehat dalam keseharian. Untuk itu, saatnya intervensi dilakukan semua pihak terkait.

Lantas, melihat kompleksitas masalah gizi di Indonesia ini, apa sebenarnya akar permasalahannya? Selain itu, di tengah tantangan menghadapi bonus demografi pada 2020-2030, apa yang mesti dilakukan pemerintah terkait dengan kebutuhan kesehatan dan gizi masyarakat dalam menyiapkan generasi unggul dan terampil?

Guna menjawab persoalan-persoalan ini, Radio Idola 92.6 FM berdiskusi dengan narasumber: Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI dan Prof Soekirman, Guru Besar Emeritus, Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB. (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaNovember, Penerimaan Pajak DJP Jateng I Capai 75 Persen
Artikel selanjutnyaSoal Donald Trump, Menlu Minta WNI Tidak Panik