Mengkonversi Spirit Berkurban Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Semarang, Idola 92.6 FM – Idul Adha merupakan salah satu hari besar Islam yang disertai dengan ibadah Haji bagi yang mampu. Selain itu, perayaan hari raya idul Adha juga disertai dengan penyembelihan hewan kurban bagi yang berpunya. Idul Adha juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebaikan umat manusia pada masa lalu. Dalam konteks sejarah, Hari Raya Kurban berarti refleksi atas ketulusan dan loyalitas Nabi Ibrahim terhadap perintah-perintah Allah SWT.

Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Tuhan, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi Ibrahim yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim pada titah sang pencipta.

Intelektual Muslim asal Iran, Ali Syariati, dalam bukunya ‘Hajj’, ibadah ritual Kurban bukan sekadar memiliki makna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama manusia, terutama mereka yang tergolong sebagai kaum dhuafa dan marginal. Ali Syariati memaknainya sebagai sebuah perumpamaan atas kemusnahan dan kematian ego. Berkurban berarti menahan diri dari, dan berjuang melawan, godaan ego. Kurban atau penyembelihan hewan sebenarnya adalah lambang dari penyembelihan hewan (nafsu hewani) dalam diri manusia. Ibadah Kurban juga memiliki pesan bahwa umat Islam diharuskan lebih mendekatkan diri dengan kaum dhuafa (kaum miskin) dan lebih mengutamakan nilai-nilai persaudaraan dan kesetiakawanan social.

Senada, Presiden Joko Widodo seusai melakukan salat Idul Adha di Masjid Agung At Tsauroh, Serang, Banten, Senin (12/9) kemarin pun mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia mengenai makna Idul Adha dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara. Spirit berkurban sangat diperlukan. Entah berkorban untuk masyarakat, berkorban untuk warga, berkorban untuk lingkungannya. Presiden Jokowi juga mengingatkan seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun kesejahteraan bangsa dan memberi pertolongan bagi warga yang tidak mampu.

Selain itu, Idul Adha juga dimaknai Jokowi sebagai inspirasi agar bekerja lebih giat secara gotong royong dalam membangun kota dan daerah. Tujuannya, guna memenangkan Indonesia dalam persaingan global. Hari Raya Idul Kurban ini menjadi inspirasi kita bahwa kita harus semuanya bekerja keras, bekerja keras untuk negara, bekerja keras untuk warga, bekerja keras untuk kotanya, bekerja keras untuk kabupatennya, bekerja keras untuk lingkungannya.

Bagi seorang aparatur pemerintah, spirit berqurban bisa dijadikan sebagai prinsip hidup dalam memberikan pelayanan publik terbaik dan menuju yang paling terbaik untuk masyarakat. Bagi seorang akademisi, pelajar dan mahasiswa, spirit berkurban bisa menjadi landasan dalam belajar, mengajar dan melakukan penelitian yang menghasilkan ilmu bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Lantas, merefleksi hari raya Idul Adha, Radio Idola 92.6 FM mengajak Anda untuk ikut urun rembug, berbagi pandangan dan bertukar pemikiran. Bagaimana mengkonversi spirit berkurban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Sudahkah kita benar-benar memahami makna berkurban sesungguhnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, kami ajak berdiskusi: Ulil Abshar Abdala (Aktivis Jaringan Islam Liberal/ cendekiawan muslim), Ahmad Rofiq (Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang dan Wakil Ketua MUI Jawa Tengah), dan Mahfud MD (Guru Besar UII Yogyakarta dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi). (Heri CS)

Artikel sebelumnyaSerapan Beras Bulog Capai 85 Persen
Artikel selanjutnyaBagaimana Keluar Dari Jeratan Bunga Utang APBN Yang Kian Membengkak?