Pengamat: Sikap Asbun Elite Politik Bentuk Kampanye

Hendri Satrio (photo: aktual)

Semarang, Idola 92.6 FM – Menyoroti komunikasi elite politik asbun (asal bunyi, red) yang sering dikatakan pejabat publik dinilai sebagai bentuk kampanye politik.

Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengatakan tingkah laku pejabat publik suka mengucapkan sesuatu pada kondisi marah-marah juga bagian dalam kampanye politik.

“Tidak hanya dalam kondisi marah saja, tapi ini juga masuk dalam kampanye politik, misalnya kalau si A ngomong kalau akan jalan kaki blablabla,” pungkasnya kepada Radio Idola di semarang, Selasa (19/4).

Contoh lain, seperti ucapan “gantung saya di Monas” yang dikatakan salah satu pejabat namun nyatanya yang bersangkutan malah terlibat skandal korupsi.

Disisi lain, Hendri mengungkapkan, jika bangsa Indonesia ialah bangsa yang pemaaf dan suka bernostalgia dengan hal-hal yang baik.

Menurutnya ekspektasi rakyat Indonesia terhadap pemimpinnya juga tinggi, padahal pemimpin itu juga manusia yang kadang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan.

Pun demikian elite politik justru sering membuat pernyataan kepada publik yang lepas kontrol, padahal menurut nya hal itu tidak mendidik.

Dia pun menyampaikan seharusnya pejabat publik harus lebih berhati-hati lagi saat berpendapat di ranah politik, karena interpretasi. (Diaz Abidin/Heri CS)

2016-04-19 – Narasumber: Hendri Satrio, Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina Jakarta by Radio Idola Semarang on hearthis.at

Artikel sebelumnyaAngka Kematian Ibu Melahirkan di Jawa Tengah Perlu Ditekan
Artikel selanjutnyaBudaya Harus Ditonjolkan Oleh Elite Politik