Topic Of The Day: Memakai Gawai Secara Cerdas?

Semarang, Idola 92.6 FM – Fenomena kehebohan Pokemon Go baru-baru ini membuat publik gegap gempita dalam memakai gawai. Banyak masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa seolah terkena candunya yang membuat mereka justru berjarak dengan realitas lingkungan sekitarnya.

Gejala eskapisme berupa kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketenteraman di dunia khayal dinilai mulai menggejala dan perlu diwaspadai.

Budayawan Mudji Sutrisno menyatakan bahwa kini kaum muda ditantang untuk menarik diri dari keramaian serta hiruk pikuk dunia maya. Ajakan itu disertai panduan pemakaian teknologi secara cerdas.

Peran Keluarga Dan Sekolah Penting Menangkal Dampak Negatif Gawai

2016-08-03-3A

Sementara itu, Dalam Program Panggung Civil Society Radio Idola, Rabu (3/8), Ketua Program Studi Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta A Setyo Wibowo mengatakan bahwa pemakaian teknologi dan gawai bagi anak muda tidak bisa dilarang. Peran keluarga dan sekolah sangat penting untuk menangkal dampak negatif penggunaannya.

“Sekarang saya berhadapan dengan anak-anak muda yang lahir di era gawai. Jadi orang tua harus memberitahu pada anak-anak tentang gawai itu dan kita harus tahu bahwa memang banyak hal-hal misterius didalamnya,” terangnya.

Menurut Romo Setyo, anak-anak muda perlu diberi pemahaman bahwa gawai menyimpan banyak misteri karena mengajak siapapun masuk ke dalam “hutan” yang petanya dikuasai pihak lain. Dalam kondisi seperti ini, menurut Setyo, generasi transisi yang berumur 40-50 tahun yang mengalami masa peralihan dari era sebelum internet dan pasca internet perlu memberi pemahaman kepada kaum muda untuk memakai gawai secara bijak.

“Tunjukan pada anak, kalau misalnya makan ya sudah jangan asik dengan gadget donk. Kemudian waktu bekerja juga kita bisa mengambil sikap untuk tidak memakai gawai. Terus yang ketiga gawai membuat anak demokratif. Disisi lain ini yang menghilangkan kecerdasan emosional anak,” tutur Romo Setyo.

Dirinya mengungkapkan dari sisi intervensi pendidikan, juga bisa dilakukan dalam bentuk edukasi etika atau tata krama komunikasi secara tertulis di dunia maya. Sebab ini berkaitan dengan kecerdasan emosional masa depan generasi muda pengguna gawai.

“Etika perlu diterapkan dalm pendidikan. Supaya etika tata krama berkomunikasi itu benar. Karena ini akan berguna untuk pekerjaan nantinya. Kalau anak-anak tidak punya kecerdasan emosi akan repot nantinya,” imbuhnya.

Gawai Seperti Alat Suntik

2016-08-03-3B

Sementara itu, Arief Rachman seorang praktisi pendidikan mengatakan bahwa saat ini tidak hanya anak muda tetapi juga orangtua yang kena demam penggunaan gawai secara berlebihan. Gawai ini temuan teknologi untuk berbagi informasi dalam masyarakat modern. Sehingga gawai harus dimanfaatkan secara baik.

“Gawai itu seperti alat suntik, kalau diisi vitamin ya orang akan sehat namun kalau diisi racun ya akan sebaliknya. Nah gawai itu sebagai hardware-nya lalu lalu software-nya adalah kita yang yang menyeleksi bagaimana harus cerdas memakai teknologi ini,” paparnya.

Menurut Arief Rachman, bagaimana yang dimaksud cerdas menggunakan gawai saat ini banyak anak belum mengetahuinya. Ada beberapa kecerdasan yang mesti disampaikan generasi transisi atau terdahulu kepada milenial.

Dia melanjutkan, ketika anak-anak hendak memakai gawai maka orang tua juga perlu melakukan 4 hal yakni memberi tahu untuk apa gawai digunakan, bagaimana caranya, kapan memakainya, dan manfaat serta hal negatif dari gawai.

“Kalau di Sekolah bisa diberlakukan peraturan, misal peraturan dari kebijakan pemerintah. Hal yang sangat penting adalah mengawasi karena pengawasan dari orang tua kadang-kadang kurang,” serunya.

Menurut Arief, pada dasarnya anak sedang dalam proses pendewasaan dimana yang bertanggung jawab mendewasakannya adalah orangtua, guru dan lingkungannya. Karena ketika anak memakai gawai secara berlebihan, anak tidak bisa disalahkan dan lagi-lagi yang harus disalahkan adalah orang tua.

Publik memahami gawai bermanfaat bagi kehidupan, sebab bisa menjadi penghubung antara satu sama lain dengan mudah, murah, dan cepat. Akan tetapi teknologi ini juga berpotensi merusak karena bisa menyebarkan pesan radikalisme, provokasi, dan aneka informasi dari akun-akun anonym.

Menurut Arif, kuncinya harus ada pengendalian sosial. Perlu intervensi pendidikan agar pemakaian teknologi dilakukan secara cerdas. Pendidikan yang dimaksud ialah pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan formal didapatkan sehari-hari di sekolah, sedangkan pendidikan nonformal didapat dari orangtua. Harus ada kesinambungan antara sekolah dan keluarga. (Heri CS)

Artikel sebelumnyaGanjar Pranowo: Kinerja PNS Jadi Penilaian Promosi Jabatan
Artikel selanjutnyaREI Jateng: Penjualan Rumah Turun 20 Persen