Arti Kemerdekaan

Merdeka berarti bebas. Salah satunya bebas dari kemiskinan. Sosok sosok pahlawan masa kini telah mewujudkan arti kemerdekaan itu dalam langkah nyata. mereka berjuang untuk membebaskan masyarakat sekitarnya dari kemiskinan. Simak kisah mereka dalam “Arti kemerdekaan”, yang di siarkan selama bulan kemerdekaan, Agustus, di radio Idola.

1. Gede Robi: Petani Yang Musisi Asli Bali

Gde Robi adalah pendiri band Navicula dan sekarang sering tampil sebagai juru bicara. Kesukaannya pada musik rock tumbuh beriringan dengan kepeduliannya pada lingkungan. Robi menekuni pertanian organik tanpa pestisida. Di rumahnya yang asri di Desa Nyuh Kuning, Ubud, ia menanami halaman dengan sayuran dan buah. Robi juga mengelola kebun 5 hektar warisan kakeknya dengan menanam kopi, cengkeh, kakao, ketela rambat, ubi, dan talas. Ada juga rumpun bambu yang rebungnya telah diekspor ke Jepang.

Pada tahun 2015, Robi berkesempatan belajar pertanian organik dari Vandana Shiva di India selama sebulan penuh. Ia terpilih mewakili anak muda Indonesia yang getol menyuarakan pertanian organic. Lewat aktivitas bermusik, ia juga dianggap mampu membawa pesan kebaikan pada alam.

Bagi Gede Robi Supriyanto, musisi dan petani dari bali, menjadi artis di sebuah band rock terkenal adalah tantangan. Perilaku dan ucapannya dianggap penting oleh banyak penggemar. Sadar posisi itu, Robi pun menggunakan musiknya tidak sekadar untuk menghibur, tetapi juga menegaskan sikap soal isu-isu sosial dan lingkungan.

Dengarkan kisahnya:

2. Ahmad Tessario: Pemberdaya Petani Organic Di Banyuwangi

Industri makanan sehat organik di Indonesia kian berkembang, namun hal ini belum disadari oleh para petani yang disebabkan kurangnya edukasi dan sarana produksi pertanian sehingga produktivitas lahan semakin menurun. Sejumlah permasalahan tersebut membuat Ahmed Tessario bertekad untuk menggagas program beras organic.

Ahmed melalui usaha berasnya yang diberi nama Sirtanio telah memberi solusi bagi para petani di banyuwangi. Alhasil petani tidak lagi merugi bahkan menjadi sejahtera.

Melalui Sirtanio, ahmed telah bekerja membangun negeri dengan meningkatkan nilai hidup petani dengan menghasilkan produk beras organik berkualitas dan tersertifikasi. Dibawah binaan Pemerintah Banyuwangi, Industri Organik yang dibangun dapat menjadi salah satu unggulan daerah yang dapat menjadi role model pertanian organik di Indonesia.

Dengarkan kisahnya:

3. Tunov Mondro Atmodjo: Pemuda Magelang Penggunting Mafia Cabai

Salah satu masalah yang menjerat petani cabai adalah persoalan tata niaga. dan persoalan ini sudah berlangsung lama. ternyata solusi nya ada di diri petani sendiri. itu yang dilihat oleh Tunov, pemuda asli Dusun Tanggulangin, Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Petani di Magelang pun akhirnya bisa tersenyum lega. Tingginya harga cabai terutama jenis rawit merah di pasaran membuat mereka memetik buah manis keuntungan yang besar. Keuntungan tinggi juga diiringi dengan mengecilnya biaya produksi dari tanam hingga panen. Proses produksi yang biasanya melibatkan tenaga buruh dengan bayaran cukup tinggi sekarang bisa dikerjakan secara bergotong royong oleh warga secara bergiliran.

Gerakan yang dikembangkan Tunov untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan cabai dilakukan dengan mengikuti budaya lokal.

Dengarkan kisahnya:

4. Kang Trisno: Kreator Desa Menari Di Kabupaten Semarang

Keuletan Trisno mengembangkan Dusun Tanon menjadi desa wisata berbuah manis. Dusun tersebut bisa mandiri tanpa bantuan pemerintah.

Desa Menari berjarak 58 km dari Semarang, 59 km dari Solo, dan 76,8 km dari Jogjakarta. Berkat keberhasilan memberdayakan masyarakat, desa di lereng Gunung Telomoyo tersebut banyak menjadi jujukan untuk studi banding. Desa tanon kini kerap didatangi perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk belajar pengembangan klaster wisata.

Kang Tris membutuhkan proses panjang hingga seluruh warga mau ikut ambil bagian dalam pengembangan wisata. kepercayaan warga mulai tumbuh saat banyak wisatawan yang datang. Bahkan Desa Menari sudah didatangi grup wisatawan dari mancanegara seperti Australia, Perancis, Italia, Korea Selatan, dan Jepang.

Dengarkan kisahnya:

5. Itmamul Khuluq: Raja Puyuh Dari Boyolali

Itmamul Khuluq menganggap para peternak puyuh di daerahnya sebagai “pahlawan pangan”. Beberapa tahun lalu, Khuluq merasa para “pahlawan pangan” itu amat tertinggal. Mereka kesulitan memasarkan telur puyuh. Kalaupun terjual, harganya rendah dan pola pembayaran tidak pasti. Keadaan itu mendorongnya melakukan pemberdayaan kepada peternak puyuh.

Kesulitan yang dialami para peternak puyuh terjadi karena belum adanya inovasi terhadap produk telur puyuh. Khuluq yang memiliki latar belakang sebagai sarjana peternakan menilai, kebanyakan peternak puyuh di Karanggede masih memiliki pengetahuan yang rendah tentang teknis pemberdayaan burung puyuh. Itu sebabnya, mereka sulit melakukan efisiensi.

Khuluq, melalui Holstein Indonesia, memberi berbagai dampak positif untuk masyarakat sekitar, khususnya para peternak puyuh binaannya. Sejak bergabung dengan Holstein, pendapatan peternak semakin meningkat. Begitu juga kwalitas hidup mereka.

Dengarkan kisahnya:

(donas)

Artikel sebelumnyaAlan: Pembinaan Atlet Bulutangkis Tanah Air Butuh Peran Swasta
Artikel selanjutnyaOmbudsman Akan Awasi Pelaksanaan Seleksi CPNS 2017 Kementerian Hukum Dan HAM

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini