Bagaimana Membangun Poros Kolaborasi Besar Untuk Meninggikan Derajat Pembangunan Desa?

Semarang, Idola 92.6 FM – Pusat pertaruhan pembangunan Indonesia hari ini adalah bisakah dualitas desa dan kota bisa didamaikan? Pertanyaan itu mewakili skeptisisme akut yang telah menjalar sangat lama bahwa keduanya merupakan keniscayaan yang tidak akan bisa dipertemukan. Demikian dikemukakan Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Ahmad Erani Yustika dalam Opini di Kompas, Senin 23 Oktober 2017 yang berjudul “Proklamasi Pembangunan Desa”.

Menurut Erani, desa menjadi paria dan kota melesat laksana kecepatan cahaya. Relasi desa dan kota tak dapat disatukan dalam prosa “memberi dan menerima” secara setara tapi menjadi hubungan yang predatorik. Secara ekonomi, relasi transaksi menikam desa lewat jalur eksploitasi penguasaan sumber daya ekonomi dan perdagangan. Secara sosial, kota menghajar desa via penetrasi karakter individualitas dalam hubungan bermasyarakat sehingga modal sosial mengalami delusi sistemik.

Terbitnya politik pembangunan desa yang ditandai oleh kelahiran UU Desa Nomor 6 tahun 2014 segera menyergap menjadi kesadaran dan harapan baru atas kejumudan kemajuan desa. Pembangunan tak lagi sekadar dirayakan sebagai turunan daftar proyek yang dikerjakan di desa tetapi dipestakan atas kedaulatan desa dalam merumuskan dan memutuskan masa depannya sendiri. Namun, hal itu tak akan menjelma menjadi daya dorong perubahan jika tak disertai sumber daya.

Lantas, bagaimana membangun poros kolaborasi besar untuk meninggikan derajat pembangunan desa? Apa sebenarnya elemen yang belum tersentuh oleh pemerintah selama ini dalam meningkatkan pembangunan desa? Lalu, bagaimana pula mewujudkan tata kelola desa dalam menopang dana desa agar tepat guna?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, nanti kita akan berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Prof Ahmad Erani Yustika, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa/PPMD (2015-2017) yang juga Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi serta dan Prof Almasdi Syahza (peneliti dan pengamat ekonomi pedesaan, LPPM Universitas Riau). (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaPolisi Semarang Gandeng TNI Razia Lampu Strobo di Mobil Sipil
Artikel selanjutnyaBank Jateng Cabang Jakarta Layani Transaksi Luar Negeri

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini