Menakar Plus Minus Ekonomi Berbagi

Semarang, Idola 92.6 FM – Model bisnis sharing economy atau ekonomi berbagi sedang jadi sorotan lantaran maraknya aplikasi on-demand yang menerapkannya dan menimbulkan kericuhan. Tak jarang terjadi bentrokan antara mereka yang menolak kehadiran system ini dengan mereka yang masih setia dengan Sesutu yang konvensional.

Jika diartikan secara harfiah, sharing economy adalah ekonomi berbagi. Namun terminologi “sharing” nyatanya seringkali memicu salah paham. Setidaknya itu pendapat dari Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sekaligus Pendiri Rumah Perubahan. Menurut Prof Rhenald, istilah sharing bisa diartikan secara umum sebagai kegiatan berbagi secara sosial.

Sementara, istilah sharing economy di sini menurutnya tentu saja melingkupi ranah ekonomi. Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan.

Menurutnya, partisipasi dari para pemain yang terlibat di ekosistem tersebut berbagi peran masing-masing. Sementara yang idle, atau aset-aset yang menganggur lebih diberdayakan. Semuanya melakukan peran masing-masing, maka nanti akan terjadi yang namanya bagi hasil. Jadi sharing di sini adalah, bagi peran dan bagi hasil. Selain welfare, efisiensi juga tercipta.

Namun, merujuk harian Kompas Rabu (15/3), Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB-Anggoro Budi Nugroho dalam opininya “Sulitnya Ekonomi Berbagi” menyebut sesungguhnya ada beberapa keuntungan dan kerugian dari berjalannya proses ekonomi berbagi. Anggora menyatakan/ keuntungannya antara lain inovasi ini memberikan kecepatan dan kemudahan proses selain juga berbiaya rendah dan murah. Sementara kerugiannya adalah inkonsistensi kualitas produk dan sulitnya untuk langsung percaya pada penyedia layanan atau problem kredibilitas.

Lantas, apa sesungguhnya plus-minus dari system ekonomi berbagi? Kenapa sebagian masyarakat masih resistensi terhadap system ini? Sudah mendesakkah regulasi khusus terkait perdagangan daring untuk mengaturnya?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu nanti kita akan berdiskusi bersama dengan beberapa narasumber yakni: Anggoro Budi Nugroho (dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB) dan Lana Soelistianingsih (pengamat Ekonomi UI). (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaCapaian Penerimaan Pajak Kanwil DJP Jateng I Baru 12 persen di Awal Tahun
Artikel selanjutnyaSemen Indonesia Tetap Konsisten Pada Kelestarian Lingkungan Pascapenambangan