Mencegah Kondisi Pulau Jawa agar Tak Semakin Kritis

Semarang, Idola 92.6 FM – Kondisi daya dukung lingkungan di Pulau Jawa hingga kini semakin memprihatinkan. Merespons hal itu, sebanyak 189 akademisi dari sejumlah perguruan tinggi baru-baru ini menyuarakan seruan moral tentang pembangunan dan dampaknya terhadap pelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. Intinya, perlu ada mitigasi, pemantauan, dan evaluasi pembangunan secara komprehensif. Sebab, kehancuran lingkungan yang merupakan ruang hidup juga mengakibatkan kehancuran budaya berupa sistem pengetahuan dan sistem hukum adat dan manusianya.

Salah satu antropolog yang ikut dalam aksi ini-Suraya Afif mengemukakan, ini seruan moral agar pemerintah tidak gegabah yang berpotensi berdampak terhadap masyarakat dan lingkungan. Ia mencontohkan rencana pembangunan pabrik semen di rembang. Pihaknya tidak anti-industrialisasi dan tidak anti-semen namun segala kebijakan pemerintah mesti didasari kajian ilmiah lengkap dan mempertimbangkan segala aspek.

Belajar dari pengalaman terdahulu, jangan sampai keputusan yang terburu-buru dan hanya melihat dari sector ekonomi yang merugikan. Selain itu, kondisi Jawa saat ini juga sudah semakin kritis. Pantai utara sudah sangat rentan oleh pembangunan kota, kawasan industry, dan kehancuran mangrove.

Lantas, bagaimana upaya untuk mencegah kondisi Pulau Jawa agar tak semakin kritis daya dukung lingkungan? Apa yang sebenarnya terjadi dengan arah pembangunan kita? Benarkah pembangunan kini lebih mengedepankan aspek ekonomis ketimbang ekologi?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola 92.6 FM berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Sosiolog Universitas Brawijaya Malang Anton Novenanto dan antropolog UGM Yogyakarta Prof PM Laksono. (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaKomisi B: Pemerintah Pusat Pilih Kasih Tangani Kerusakan Karimunjawa
Artikel selanjutnyaSusur Jejak Mata Air Bukit Bibi Bersama PMI