Mengelola Urbanisasi Untuk Kota Berkelanjutan

Semarang, Idola 92.6 FM – Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota merupakan sebuah keniscayaan dalam laju pembangunan. Tak hanya di Indonesia, kecenderungan itu juga terjadi di berbagai belahan dunia. Diperkirakan saat ini 50 persen warga Indonesia tinggal di perkotaan.

Ke depan, arus urbanisasi yang cepat diprediksi akan menyebabkan warga yang tinggal di perkotaan akan mencapai 70 persen di tahun 2045. Percepatan urbanisasi bukan hanya karena faktor perpindahan dari desa ke kota. Namun juga karena desa itu sendiri telah berubah menjadi kota karena dampak dari pembangunan infrastruktur.

Arus urbanisasi yang begitu cepat dalam jumlah begitu besar, jika tidak diantisipasi secara arif dari awal, akan menyebabkan sejumlah persoalan. Terutama pada degradasi kualitas hidup masyarakat perkotaan, khususnya dari aspek permukiman, ketersediaan air bersih, pasokan energi, dan lingkungan. Salah satu contohnya, kalau kita ke desa, pasti akan dilengkapi dengan tempat pemakaman umum. Namun, jika kita melihat di permukiman perkotaan, bisa dilihat tidak semua memiliki kompleks pemakaman. Itu seolah menggambarkan satu dari sekian persoalan di perkotaan.

Nah, terkait hal ini, kebijakan nasional pembangunan perkotaan dan wilayah telah termuat dalam Nawacita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Di antaranya membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestic.

Maka, mengelola urbanisasi di Indonesia merupakan tantangan agar kota menjadi tempat tinggal yang heterogen, punya fasilitas yang baik sehingga muncul inovasi dan kegiatan produktif.

Lantas, bagaimana mengelola urbanisasi secara berkualitas sehingga memberikan dampak positif bagi perekonomian? Mungkinkah semangat memanusiakan manusia dalam upaya penyeragaman kota melalui pembangunan? Apa pula yang mesti dilakukan agar urbanisasi tidak menimbulkan masalah sosial dan ekonomi baru?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, nanti kita akan berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Jamila Kautsari (pengamat tata kota dari Unissula), Prof Sunyoto Usman (Sosiolog UGM Yogyakarta), dan Andrinof A. Chaniago (Direktur Eksekutif Cirus Surveyors Group/pengamat kebijakan publik FISIP UI) . (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaBandara Ahmad Yani Siap Tampung Lonjakan Penumpang Akhir Tahun
Artikel selanjutnyaPemprov Akan Benahi Akurasi Data Kartu Tani Sebelum Digunakan Tahun Depan

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini